Support by SAMUDRA PELAUT TRUST DESA
Bencana kelaparan parah atau famine untuk pertama kalinya secara resmi dikonfirmasi terjadi di Jalur Gaza. Sebuah analisis terbaru dari Integrated Food Security Phase Classification (IPC) yang dirilis oleh empat badan PBB—FAO, UNICEF, WFP, dan WHO—pada 22 Agustus 2025 sampai hari ini, menyatakan bahwa lebih dari setengah juta orang terjebak dalam kondisi yang ditandai kelaparan ekstrem, kemiskinan, dan kematian yang seharusnya dapat dicegah. Kondisi mengerikan ini diproyeksikan akan segera menyebar dari Governorat Gaza ke Deir Al Balah dan Khan Younis dalam beberapa minggu ke depan.
Konfirmasi ini didasarkan pada tiga ambang batas kritis yang telah dilampaui, yaitu deprivasi makanan ekstrem, malnutrisi akut, dan kematian terkait kelaparan. Hampir dua tahun genosida Israel ke Gaza, warga terpaksa mengungsi di tenda sederhana, dan pembatasan akses bantuan kemanusiaan menjadi akar dari bencana ini. Sektor pertanian dan produksi pangan lokal hancur total, dengan 98 persen lahan pertanian rusak atau tidak dapat diakses. Sistem kesehatan, sanitasi, dan pasokan air bersih juga telah kolaps, meninggalkan penduduk dalam keadaan tanpa daya.
Dampaknya paling terasa pada anak-anak. Angka malnutrisi akut pada anak melonjak enam kali lipat sejak awal tahun, dengan lebih dari 12.000 anak tercatat hanya dalam bulan Juli lalu. Hampir seperempat dari mereka menderita malnutrisi akut parah, kondisi paling mematikan yang menyebabkan dampak jangka pendek maupun jangka panjang. Proyeksi terbaru memperkirakan bahwa 43.400 anak akan berada dalam risiko kematian akibat malnutrisi pada pertengahan 2026—angka yang tiga kali lipat lebih tinggi dari proyeksi sebelumnya.
Akses bantuan masih sangat terbatas dan tidak konsisten. Meskipun ada peningkatan sedikit dalam pasokan makanan yang masuk sejak Juli, jumlahnya masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Keputusasaan telah memicu penjarahan terhadap truk-truk bantuan PBB. Harga pangan melambung tinggi, sementara bahan bakar dan gas untuk memasak semakin langka. Orang dewasa kerap melewatkan makanannya agar dapat memberi makan anak-anak mereka, dan lebih dari sepertiga populasi melaporkan sering berhari-hari tanpa makan.
Empat badan PBB tersebut menegaskan bahwa satu-satunya solusi adalah gencatan senjata segera dan akses kemanusiaan yang tidak terhambat. Mereka menyerukan agar komunitas internasional mengambil tindakan nyata untuk mendorong perdamaian dan memastikan bantuan dapat disalurkan secara luas dan aman. Selain itu, rehabilitasi sistem kesehatan, perbaikan akses air bersih, dan pemulihan produksi pangan lokal juga menjadi hal yang mendesak.
“Orang-orang di Gaza telah menghabiskan segala cara yang mungkin untuk bertahan hidup. Akses kepada makanan bukanlah hak istimewa – ini adalah hak asasi manusia,” tegas Direktur Jenderal FAO QU Dongyu. Seruan serupa disampaikan oleh pimpinan WFP, UNICEF, dan WHO yang menekankan bahwa tanpa tindakan segera, famine akan terus membunuh lebih banyak nyawa, terutama diantara kelompok paling rentan seperti anak-anak, orang tua, dan penyandang disabilitas.
Dunia tidak boleh tinggal diam. Krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai titik yang tidak terbayangkan, dan hanya melalui diplomasi politik serta aksi kolektif kita dapat menghentikan penderitaan ini. Setiap nyawa yang tertolong adalah tanggung jawab bersama umat manusia.








Komentar