Pertarungan di Bawah Laut: Dari Terowongan Bering hingga Diplomasi Maritim Baru Dunia

Catatan Diplomasi Politik Pelaut Nuswantara

Support by SAMUDRA PELAUT TRUST DESA

Ketika Donald Trump menyebut ide terowongan bawah laut yang menghubungkan Rusia dan Alaska sebagai “menarik”, dunia mungkin menganggapnya sekadar komentar spontan. Tapi di balik ucapan itu, ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi: perebutan kekuasaan global yang kini bergerak ke bawah laut.

Rusia, lewat utusan investasi Kirill Dmitriev, menawarkan proyek raksasa kepada Elon Musk dan The Boring Company — membangun terowongan sepanjang 70 mil di bawah Selat Bering, dengan klaim bisa selesai hanya dalam delapan tahun. “Simbol persatuan,” katanya. Biayanya diperkirakan turun dari 65 miliar dolar menjadi hanya 8 miliar. Fantastis, sekaligus tak realistis. Namun yang menarik bukan angka atau teknologinya, melainkan pesan politik di baliknya. Ini bukan proyek teknik, tapi diplomasi yang dibungkus sebagai infrastruktur masa depan.

Infrastruktur Bawah Laut: Jalur Baru Diplomasi Kekuasaan

Laut bukan lagi sekadar tempat kapal berlayar. Ia telah menjadi ruang strategis paling penting abad ke-21 — tempat kekuatan besar bersaing menguasai informasi, energi, dan konektivitas global.

  • Amerika Serikat memperluas jaringan kabel data bawah laut yang menopang 95% komunikasi internet dunia.

  • Tiongkok membangun infrastruktur laut dalam di Laut Cina Selatan, lengkap dengan sensor bawah laut dan kapal riset militer.

  • Rusia mengamankan wilayah Kutub Utara untuk cadangan energi dan rute pelayaran baru akibat mencairnya es.

Kini, lewat ide “terowongan persahabatan” dengan AS, Rusia berusaha menggeser narasi global: dari isolasi akibat perang Ukraina menjadi kolaborator teknologi lintas samudra. Namun bagi Ukraina, seperti diungkapkan Presiden Volodymyr Zelenskyy, ide ini terdengar seperti pengkhianatan. Karena bagi Moskow, setiap proyek infrastruktur adalah alat diplomasi dan propaganda. Terowongan bisa jadi “jembatan kerja sama”, tapi juga “saluran pengaruh”.

Elon Musk di Tengah Diplomasi Baru

Nama Elon Musk dalam konteks ini bukan kebetulan. Bagi Kremlin, melibatkan Musk berarti mendapatkan perhatian publik global tanpa perlu bernegosiasi dengan Washington secara formal. Bagi Trump, memuji proyek ini tanpa komitmen juga menguntungkan: ia tampak terbuka terhadap inovasi, tanpa harus memberi Rusia keuntungan politik nyata.

Namun di sisi lain, The Boring Company belum pernah membangun proyek dengan kondisi ekstrem seperti Selat Bering — suhu beku, gempa sering, tanpa infrastruktur. Secara teknis, proyek ini nyaris mustahil. Tapi dalam politik global, yang mustahil sering kali menjadi alat negosiasi paling ampuh.

Perlombaan ke Dasar Laut

Fenomena “terowongan Bering” hanyalah bagian dari tren yang lebih besar: perlombaan global menuju bawah laut. Negara-negara kini berlomba bukan hanya menguasai laut, tapi apa yang ada di bawahnya — kabel, pipa gas, sensor militer, hingga mineral kritis seperti nikel, kobalt, dan mangan.

Di bawah permukaan laut, tersimpan bukan hanya sumber daya alam, tapi juga infrastruktur digital global. Serat optik yang membawa data dari satu benua ke benua lain menjadi aset strategis. Siapa yang menguasai jalurnya, menguasai arus informasi dunia.

Inilah medan baru perang dingin abad ke-21: bukan di langit atau ruang angkasa, tapi di kedalaman laut. Negara-negara besar membangun kekuasaan bawah laut, sementara negara-negara menengah harus memilih — menjadi pemain atau hanya lintasan kabel.

Indonesia dan Diplomasi Maritim Era Baru

Bagi Indonesia, semua ini punya makna besar. Sebagai negara kepulauan di jantung Indo-Pasifik, Indonesia berada di jalur strategis komunikasi laut internasional (SLOCs) — tempat bersilangan kabel data, kapal logistik, dan pipa energi dunia. Namun, apakah Indonesia sudah menyiapkan diri menghadapi geopolitik bawah laut?

Diplomasi maritim Indonesia selama ini fokus pada isu perbatasan dan keamanan laut permukaan. Padahal ancaman dan peluang masa depan justru ada di bawah permukaan. Indonesia bisa memimpin agenda baru: “blue diplomacy” — diplomasi maritim yang menekankan kerja sama ilmiah, perlindungan sumber daya laut dalam, dan keamanan data bawah laut.

Jika negara-negara besar beradu pengaruh lewat terowongan dan kabel laut, Indonesia seharusnya menawarkan visi maritim yang damai dan inklusif. Kepemimpinan diplomatik seperti ini bisa mengubah posisi Indonesia dari sekadar penonton menjadi penentu arah geopolitik Indo-Pasifik.

Masa Depan Ada di Bawah Permukaan

Terowongan Bering mungkin tidak akan pernah dibangun. Tapi gagasannya sudah cukup untuk menunjukkan arah dunia: pertarungan global kini bergerak ke bawah laut. Dari pipa gas Nord Stream yang meledak hingga sensor bawah laut di Laut Cina Selatan, perebutan pengaruh kini berlangsung dalam diam — di dasar samudra.

Bagi kekuatan besar, laut adalah arena kekuasaan baru.
Bagi negara seperti Indonesia, laut adalah masa depan.
Dan bagi dunia, yang tampak seperti proyek infrastruktur kini adalah diplomasi di kedalaman — diplomasi yang menentukan siapa yang akan memegang kendali atas abad ke-21.

 

Komentar