Banda Aceh, indomaritim.com – Sebuah ledakan terjadi di kamar mesin kapal penyeberangan KMP Aceh Hebat 2 rute Banda Aceh – Sabang, saat kapal sedang bersandar di Pelabuhan Ulee Lheue, Kota Banda Aceh, Jumat (12/6).
Insiden tersebut mengakibatkan 15 orang mengalami luka bakar, di antaranya 14 mahasiswa Politeknik Pelayaran Malahayati dan seorang anak buah kapal KMP Aceh Hebat 2. Kini, seluruhnya sedang menjalani penanganan medis di RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh.
Menurut Antara, Pemerintah Aceh memastikan para korban mendapatkan layanan kesehatan atau penanganan terbaik dan prioritas.
“Keselamatan dan pemulihan kondisi korban menjadi prioritas utama saat ini. Kita memastikan seluruh pihak terkait memberikan layanan terbaik,” kata Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Sabtu.
Saat ini, Satuan Reserse Kriminal Polresta Banda Aceh tengah mendalami atau menyelidiki penyebab ledakan di kamar mesin kapal penyeberangan KMP Aceh Hebat 2 tersebut.
Seluruh Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) terkait juga telah diinstruksikan untuk berkoordinasi intensif dengan rumah sakit, operator kapal, serta instansi pelabuhan guna memastikan seluruh korban memperoleh penanganan medis optimal hingga proses pemulihan selesai.
Pemerintah Aceh menyampaikan rasa prihatin yang mendalam atas insiden yang menimpa KMP Aceh Hebat 2 tersebut, dan terus memantau perkembangan penanganan para korban.
“Atas nama Pemerintah Aceh, kami menyampaikan rasa prihatin dan duka atas musibah yang menimpa para taruna Politeknik Pelayaran Malahayati dan kru kapal,” ujarnya.
Selain penanganan korban, lanjut Nurlis, pemerintah Aceh juga menilai penting dilakukan investigasi menyeluruh untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya insiden tersebut.
Hasil pemeriksaan nantinya diharapkan dapat menjadi dasar untuk memperkuat standar keselamatan dan prosedur operasional guna mencegah kejadian serupa terulang di masa mendatang.
“Pemerintah Aceh mendukung proses pemeriksaan yang sedang dilakukan oleh pihak berwenang. Penyebab kejadian harus diketahui secara jelas agar langkah-langkah perbaikan dan mitigasi dapat dilakukan secara tepat,” demikian Nurlis Effendi. (RR)












Komentar