Moskow, indomariti.com – Oman telah memberitahu negara-negara Eropa bahwa pihaknya mungkin akan mengenakan biaya pada kapal-kapal yang berlayar melalui Selat Hormuz, dan memperingatkan bahwa kembali ke status quo sebelum perang adalah mustahil, ungkap laporan Bloomberg, Jumat (26/6).
Biaya tersebut mungkin akan dikenakan untuk layanan yang terkait dengan upaya de-polusi atau bantuan bagi kapal untuk melewati selat tersebut, kata kantor berita tersebut, mengutip sumber yang mengetahui masalah itu.
Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara-negara Teluk Arab telah memprotes rencana Oman dan Iran untuk menetapkan sistem pungutan atau biaya di jalur perairan penting tersebut.
Menurut Antara, belum jelas apakah pembayaran tersebut akan bersifat wajib. Oman dilaporkan sedang menganalisis sistem yang digunakan oleh negara lain untuk mengontrol lalu lintas kapal, khususnya di Selat Malaka, yang tidak mengenakan biaya.
Iran mengatakan sedang bekerja sama dengan Oman untuk menetapkan kerangka hukum baru untuk pelayaran di Selat Hormuz tersebut.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa keadaan tidak akan seperti biasa setelah serangan AS-Israel terhadap negaranya.
Iran berpendapat pengenaan biaya untuk layanan guna memastikan lalu lintas yang aman, bukan pungutan tol.
Pada 28 Februari, AS dan Israel menyerang Iran. Agresi militer tersebut menyebabkan kerusakan dan korban sipil di pihak Iran.
Pada malam 18 Juni, Iran dan AS menandatangani memorandum secara jarak jauh yang menjamin berakhirnya konflik militer.
Memorandum tersebut juga menetapkan jangka waktu bagi AS untuk mencabut blokade angkatan lautnya dan bagi Iran untuk memulihkan pengiriman melalui Selat Hormuz. (Edo)











Komentar