Nikel dan perikanan, Alternatif Ekspor untuk Perbaiki Neraca Perdagangan

Ekonomi, Info Maritim342 Dilihat

Jakarta, indomaritim.com – Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira berpendapat olahan nikel dan perikanan menjadi komoditas ekspor alternatif potensial untuk memperbaiki kinerja neraca perdagangan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026, mengakhiri catatan surplus beruntun selama 72 bulan sejak Mei 2020.

“Dua itu harusnya, olahan nikel berkualitas dan perikanan,” kata Bhima seperti dikutip Antara di Jakarta, Minggu.

Terkait komoditas nikel, Bhima mendorong pemanfaatan olahan yang memiliki standardisasi lingkungan yang lebih ketat serta ketertelusuran (traceability) untuk masuk ke pasar Eropa. Misalnya, olahan nikel yang memenuhi syarat Cross Border Adjustment Mechanism (CBAM) serta The London Metal Exchange.

“Jadi harus ada standarisasi rendah karbon untuk produk olahan-olahan nikel, sehingga pasarnya tidak hanya bergantung pada China, tapi juga bisa mengekspor langsung kepada Eropa, salah satunya, atau ke Amerika Serikat,” jelas dia.

Dalam konteks ini pula, lanjut Bhima, Indonesia perlu memanfaatkan perjanjian dagang dengan berbagai negara mitra, misalnya Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Bhima menyebut diplomasi dagang harus dioptimalkan untuk mencari pasar olahan nikel, sehingga bisa mendorong fokus dari sekadar volume ekspor menjadi nilai tambah komoditas.

“Indonesia harus memperkuat hilirisasi di bagian tengah, sehingga produk yang diekspor itu tidak mengandalkan ekspansi tambang terus. Tapi dengan kuota produksi yang ada sekarang, harga barang di level internasional ini bisa lebih tinggi,” ujarnya menambahkan.

Sementara untuk perikanan, Bhima menilai kontribusi sektor ini terhadap ekspor relatif rendah meski mencetak pertumbuhan yang positif.

Padahal, menurutnya, sektor perikanan Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Produk olahan rumput laut, ikan tuna, dan ikan lainnya diyakini bisa menembus pasar ekspor seperti Pakistan, India, Eropa, maupun Asia Tengah.

“Perikanan ini juga termasuk investasi pada cold storage dan industri hilirisasi ikan, jadi pengolahannya dilakukan di dalam negeri sebelum dilakukan ekspor. Jadi, bukan barang mentah ikannya,” kata dia.

Bhima pun menyarankan agar Indonesia mengurangi dependensi kepada produk seperti batu bara dan sawit yang rentan mengalami fluktuasi akibat dinamika global. (RR)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar