Beijing, indomaritim.com – Layaknya kastil di Eropa yang berdiri gagah di bukit berbatu pada abad pertengahan, Istana Yumbulagang juga kokoh berada di ketinggian 3.600 meter di atas permukaan laut sehingga mudah terlihat dari jauh.
Istana Yumbulagang tidak berada di Eropa, tetapi di bukit Tashi Tsere, Distrik Naidong, kota Shannan, daerah di bagian selatan Daerah Otonom Xizang, China.
Kota Shannan dikenal sebagai tempat lahirnya etnis Tibet dan salah satu pusat awal kebudayaan Tibet. Kota ini memiliki banyak “yang pertama”, salah satunya Istana Yumbulagang sebagai istana pertama dalam sejarah Tibet.
Nama Yumbulagang dalam bahasa Tibet berasal dari dua kata yaitu yungbu yang berarti rusa betina, merujuk pada bentuk bukit Tashi Tsere, tempat berdirinya istana itu yang menyerupai rusa dan lakang yang berarti istana atau kuil.
Dikutip dari Antara, istana itu dibangun pada abad kedua sebelum Masehi oleh Nyatri Tsenpo, raja Tibet pertama. Raja itu menurut legenda turun dari langit dan diterima sebagai pemimpin oleh penduduk Lembah Yarlung.
Lembah Yarlung dikenal sebagai sumber kebudayaan Tibet dan salah satu tempat lahirnya masyarakat Tibet.
Istana Yumbulagang kemudian menjadi tempat tinggal turun-temurun bagi para raja awal Tibet, hingga masa raja ke-33 dari Dinasti Tubo yaitu Raja Songtsen Gampo dan istrinya dari Dinasti Tang, Putri Wencheng, pada abad ke-7, menjadikannya istana musim panas.
Kuil Buddha
Meski awalnya sebagai istana, kini Yungbulakang berfungsi sebagai kuil Buddha tempat peziarah agama Budha Tibet beribadah sekaligus museum.
Bangunan itu terbagi menjadi dua bagian utama. Pertama adalah bangunan tiga lantai di bagian depan dan kedua adalah bagian belakang berupa menara benteng persegi yang menjulang dan terhubung satu sama lain.
Di bagian depan, baik di lantai pertama maupun kedua, pengunjung akan menemukan patung-patung bersejarah Dinasti Tibo yaitu Raja Nyatri Tsenpo, Raja Songtsen Gampo, Putri Wencheng dan menteri terkenal seperti Thonmi Sambhota (pencipta aksara Tibet).
Dinding-dindingnya dihiasi mural kuno yang menceritakan kisah turunnya raja pertama, kedatangan kitab suci, dan adegan penting Kerajaan Tibo lainnya. Salah satunya menggambarkan Putri Wencheng yang mengolah lahan pertanian pertama di Tibet.
Di lantai kedua bangunan juga terdapat benda yang menurut sejarah dan tradisi Tibet dianggap sebagai kitab suci pertama dalam sejarah Tibet.
Direktur Komisi Manajemen Istana Yumbulagang Dunzhu Ciren mengatakan meskipun ukurannya kecil dan hanya memiliki dua lantai, nilai sejarah dan kebudayaan istana tersebut sangat besar.
“Di tempat ini terdapat jejak yang berkaitan dengan raja pertama Tibet, istana pertama Tibet, kitab suci pertama dalam sejarah Tibet, perkembangan awal kekuasaan politik Tibet, hubungan dan pertukaran Tibet dengan wilayah-wilayah lain dan kawasan Lembah Yarlung sebagai salah satu tempat lahirnya peradaban Tibet,” kata Dunzhu di Istana Yumbulagang pada 23 Juli.
Setiap tahun, Dunzhu mengatakan, istana tersebut menerima kedatangan wisatawan dari berbagai negara dan kelompok etnis. Mereka datang pada musim panas maupun musim dingin untuk menelusuri sumber dan asal-usul kebudayaan Tibet.
Seorang penganut ajaran Budha Tibet yang ditemui di lokasi mengatakan ia datang ke tempat tersebut untuk berziarah dan beribadah.
Mengenakan pakaian biksu Budha aliran Tibet, pria tersebut mengaku sebagai penganut dan praktisi Buddhisme sekaligus tertarik mempelajari berbagai hal yang berkaitan dengan sejarah, kebudayaan dan perkembangan Budha Tibet.
“Saya telah mengunjungi banyak tempat yang berkaitan dengan ajaran Budha Tibet. Tempat ini memiliki arti penting karena dikenal sebagai istana pertama dalam sejarah Tibet, karena itu saya datang untuk melihatnya secara langsung, memahami sejarahnya, dan mengetahui lebih banyak mengenai asal-usul kebudayaan Tibet,” kata dia.
Melihat berbagai kelompok etnis datang mengunjungi kuil-kuil Budha Tibet, ia menilai hal tersebut menunjukkan bahwa ajaran Budha Tibet tidak hanya dikenal dan dipraktikkan oleh masyarakat Tibet, tetapi juga mulai menarik perhatian masyarakat dari berbagai latar belakang.
Meski begitu, ia mengaku belum pernah berkunjung ke luar negeri sehingga hanya mengunjungi berbagai tempat di Xizang dan sejumlah wilayah lain di China yang memiliki hubungan dengan ajaran Budha Tibet.
Danau Yamdrok
Selain Istana Yumbulagang, lokasi lain yang juga terkait dengan ajaran agama dan budaya di Xizang yang berada di Shannan adalah Danau Yamdrok, satu dari tiga danau suci di Daerah Otonom Xizang bersama dengan Namtso dan Manasarovar.
Danau ini terletak sekitar 100 kilometer di barat daya Lhasa atau sekitar 72 kilometer dari Istana Yumbulagang.
Danau seluas 638 kilometer persegi yang membentang sepanjang sekitar 250 kilometer dan berada di ketinggian rata-rata 4.441 meter di atas permukaan laut itu punya ciri warna biru yang bervariasi.
Karena warna birunya yang sangat indah, danau Yamdrok dijuluki “Danau Pirus” sebab punya warna biru kehijauan yang sangat khas dan dapat berubah menjadi tujuh gradasi warna biru dalam satu waktu, mulai dari biru safir hingga hijau zamrud.
Perubahan warna biru itu bergantung pada pantulan sinar matahari maupun kandungan mineral yang ada di dalam danau.
Danau Yamdrok juga punya cerita rakyat yang turun-temurun dikisahkan. Salah satunya menyebut danau tersebut terbentuk ketika seorang bidadari dari langit turun ke bumi untuk menikmati keindahan alam. Namun, ketika ia berada di bumi, suaminya yang cemburu menyusulnya dan berusaha membawanya kembali ke langit.
Sayangnya, karena kekuatan alam yang lebih besar, sang suami justru berubah menjadi Gunung Kampala yang kokoh dan menjulang tinggi di sekitar danau, sementara sang bidadari tetap tinggal di bumi dan menjelma menjadi Danau Yamdrok yang memukau, sehingga keduanya kini berdampingan selama-lamanya.
Selain legenda cinta tersebut, Danau Yamdrok juga diyakini sebagai tempat kediaman dewi pelindung bernama Dorje Geg Kyi Tso.
Dewi ini dipercaya memiliki kekuatan gaib yang luar biasa dan menjadi pelindung bagi seluruh wilayah Tibet.
Bahkan, diyakini bahwa jika danau ini mengering, itu akan menandai akhir dari peradaban Tibet. Danau tersebut juga terkait erat dengan Guru Padmasambhava, yang membawa agama Buddha ke Tibet pada abad ke-8 sehingga banyak peziarah datang untuk melakukan kora (jalan melingkar) yang memakan waktu hingga tujuh hari demi memurnikan karma negatif.
Karena kesakralannya, terutama dalam ritual ramalan dan pencarian reinkarnasi, diceritakan bahwa para pemimpin agama tinggi dari Biara Nechung pernah menggunakan danau itu sebagai media untuk mendapatkan petunjuk dan penglihatan gaib dalam menemukan reinkarnasi Dalai Lama.
Karena alasan itulah danau tersebut tidak hanya dipandang sebagai keindahan alam biasa, tetapi juga sebagai penjaga dan simbol kelangsungan hidup spiritual serta budaya seluruh bangsa Tibet. Pemerintah melarang adanya aktivitas manusia di dalam danau itu termasuk berenang, memancing, menggunakan perahu atau bahkan membuat restoran dekat danau.
Terdapat beberapa titik utama untuk menikmati keindahan danau tersebut baik area berbayar maupun gratis.
Titik-titik populer antara lain adalah Gangbala Pass (4.990 m) atau menjadi titik tertinggi dan paling klasik untuk melihat pemandangan danau.
Untuk datang ke titik ini, pengunjung harus membayar tiket terusan sekitar 100-120 RMB. Di lokasi ini juga terdapat kantor pos tempat pengunjung dapat mengirimkan surat atau kartu pos bergambar danau kepada orang-orang terdekat.
Titik selanjutnya adalah Platform Lakeside atau platform 3. Di sana, pengunjung dapat turun ke tepi danau dan dapat melihat dari dekat warna biru kehijauan yang memukau hingga berfoto dengan yak (bison Tibet) atau anjing jenis Tibetan Mastiff (dalam bahasa Tibet disebut Do-khyi).
Anjing itu dikenal sebagai salah satu ras anjing terbesar dan paling purba di dunia, yang secara tradisional digunakan oleh para penggembala dan biara di Tibet untuk melindungi ternak dari predator. Pengunjung yang ingin berfoto dengan yak maupun Tibetan Mastiff harus membayar 20-30 RMB.
Berdasarkan data pengelola danau, pada 2025, sebanyak 1,085 juta turis datang ke danau tersebut dari berbagai wilayah di China maupun wisatawan luar negeri.
Meski sangat indah, bila ingin berkunjung ke Danau Yamdrok, tetap waspada terhadap penyakit ketinggian atau altitude sickness karena danau tersebut berada di ketinggian 4.441 meter.
Pengunjung disarankan untuk melakukan aklimatisasi lebih dulu di kota Lhasa selama 1-2 hari dan membawa oksigen portabel .
Selain itu, pengunjung juga perlu memperhatikan prakiraan cuaca.
Danau tampak paling indah saat cuaca cerah, dengan warna air berubah dari biru tua menjadi hijau zamrud bergantung pada posisi matahari dan sudut pandang.
Jika hanya pergi ke titik Gangbala Pass, pengunjung hanya melihat keindahan dari foto, sediakan waktu juga untuk berkeliling dan menikmati ketenangan di tepi danau untuk merasakan keindahan magis Danau Yamdrok. (Edo)








Komentar