Istanbul, 13/8 (ANTARA) – Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk menjamin “pelayaran bebas dan aman” di Selat Hormuz “tanpa biaya tambahan” serta meminta kelompok Houthi di Yaman agar menahan diri.
Dalam panggilan telepon bersama Presiden Iran, Rabu, PM Jepang menekankan pentingnya menurunkan eskalasi ketegangan militer dan meredakan situasi, terlebih di saat Iran melanjutkan dialog dengan negara-negara terkait untuk membuka Selat Hormuz, menurut pernyataan Takaichi di media sosial X sepereti dikutip dari Antara.
Ia menyampaikan pandangan Jepang agar Amerika Serikat dan Iran berunding kembali dengan menjadikan Memorandum Islamabad sebagai acuan demi mencapai kesepakatan akhir sedini mungkin, termasuk dalam isu nuklir.
Takaichi juga menyampaikan harapannya yang kuat agar “de-eskalasi situasi melalui diplomasi” dapat dicapai segera.
PM Jepang mengatakan Selat Hormuz harus terus terbuka untuk “pelayaran yang bebas dan aman tanpa biaya tambahan” dan menyerukan diskusi dijalankan dengan komunitas internasional, khususnya negara pengguna Selat Hormuz.
Ia juga menyampaikan kekhawatiran akan situasi di Selat Bab Al-Mandeb serta mendesak langkah-langkah diambil untuk mendorong kelompok Houthi di Yaman untuk menahan diri.
Bab Al-Mandeb yang terletak di sisi barat Jazirah Arab merupakan pintu masuk ke Laut Merah.
Di samping itu, Takaichi mendesak agar Iran segera menyelesaikan kasus seorang warga negara Jepang yang dibebaskan dengan jaminan di Iran pada April lalu.
Kepada PM Jepang, Presiden Iran menjelaskan status dan proyeksi ke depan soal dialog dengan Oman terkait Selat Hormuz.
Adapun mengenai isu Selat Bab Al-Mandeb, Pezeshkian memastikan langkah-langkah sudah diambil untuk menyelesaikan isu tersebut melalui dialog, termasuk dengan Arab Saudi.
AS dan Iran telah menandatangani nota kesepahaman perdamaian pada 17 Juni dan menyelenggarakan perundingan demi mencapai kesepakatan akhir.
Akan tetapi, pembicaraan tersebut gagal karena perselisihan terkait jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz, salah satu rute pelayaran paling strategis untuk distribusi pasokan dan perdagangan energi global.
Pada 8–24 Juli, AS dan Iran kembali saling serang, dengan Washington melakukan serangan terhadap wilayah Iran dan Teheran membalas dengan menyerang aset-aset dan fasilitas militer AS di sejumlah negara Arab, seperti Yordania, Bahrain, dan Kuwait. (Hes)







Komentar