Istanbul, indomaritim.com – Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan Selat Hormuz tidak dapat direbut hanya dengan sebuah cuitan, pengerahan kapal induk, perintah, ataupun pidato kampanye pemilu.
Pernyataan tersebut disampaikan Gharibabadi, Jumat, untuk menepis klaim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sesumbar akan menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah negaranya.
Wamenlu Iran itu mengatakan AS harus mengakui kekalahan strategis dan serius yang telah dideritanya dalam perang melawan Iran.
“Iran tidak takut terhadap ancaman dan tidak dapat diintimidasi oleh unjuk kekuatan,” katanya melalui unggahannya di platform media sosial X seperti dikutip dari Antara.
“Selat Hormuz itu milik Iran, sekarang milik Iran, dan akan tetap menjadi milik Iran. Selat ini hanya akan ditutup dan dibuka atas perintah Iran. Sampai kalian menerima kenyataan mengenai kekalahan kalian dan meninggalkan fantasi Anda, Iran akan terus memberlakukan blokade di Hormuz,” tambahnya.
Dalam pernyataannya sehari sebelumnya, Trump mengklaim bahwa Angkatan Laut AS sedang memberlakukan blokade penuh terhadap Selat Hormuz.
“Setelah mengalahkan Iran sepenuhnya, saya akan segera menyatakan Selat Hormuz sebagai wilayah Amerika Serikat,” kata Trump.
Sementara itu, para pejabat Iran berulang kali mengatakan bahwa selat tersebut tidak akan dibuka kembali selama AS masih melakukan intervensi di kawasan itu, mempertahankan blokade angkatan laut, dan tidak memenuhi persyaratan dalam kerangka kesepakatan Juni antara Teheran dan Washington.
Melalui platform Truth Social, Trump juga mengklaim bahwa AS telah memiliki kendali penuh atas Selat Hormuz dan meyakini bahwa kendali tersebut dapat dipertahankan.
Ibrahim Zolfaqari, juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya yang merupakan badan militer tertinggi Iran dalam mengoordinasikan perang, membantah klaim Trump tersebut pada Kamis.
“Tidak ada kapal yang akan diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin dan pengawasan Iran,” kata Zolfaqari. (Hes)





Komentar