Sebagian Objek Wisata Utama NTT Ditutup Pascagempa

Daerah18 Dilihat

Jakarta, indomaritim.com – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sejumlah destinasi wisata unggulan Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur (NTT) ditutup untuk sementara demi memastikan keselamatan wisatawan pascagempa bumi bermagnitudo 7,7 mengguncang kawasan tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, mengatakan penutupan sementara dilakukan pada objek wisata yang membutuhkan pemeriksaan serta pemulihan kelayakan infrastruktur.

“Beberapa tempat wisata saat ini masih ditutup untuk sementara, seperti Goa Rangko di Kabupaten Manggarai Barat, Kampung Adat Wae Rebo di Manggarai, dan Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende,” kata Berton seperti dikutip dari Antara.

Berton menjelaskan otoritas pariwisata daerah akan terus memperbarui informasi resmi mengenai pembukaan kembali destinasi-destinasi tersebut setelah penanganan dan verifikasi keamanan selesai dilakukan oleh petugas di lapangan.

Meski demikian aktivitas pariwisata di kawasan Taman Nasional (TN) Komodo dan sekitarnya dipastikan tetap beroperasi secara normal dan dapat diakses oleh wisatawan domestik maupun mancanegara tanpa adanya insiden.

Berdasarkan hasil pendataan BNPB, sebanyak delapan objek daya tarik wisata dilaporkan mengalami rusak ringan.

Sementara pada sektor akomodasi pariwisata tercatat dua hotel dan tiga pondok tinggal (homestay) mengalami rusak berat serta 10 hotel dan lima homestay mengalami rusak ringan yang tersebar di beberapa kabupaten terdampak, termasuk Nagekeo.

“Memastikan keselamatan dan keamanan seluruh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, serta kelayakan infrastruktur pariwisata adalah prioritas,” kata Berton.

BNPB sebelumnya melaporkan data sementara bahwa ada lebih dari 5.000 orang mengungsi baik secara mandiri maupun menempati posko pengungsian umumnya karena rumah mereka rusak ringan hingga berat akibat guncangan gempa M7,7.

Hasil pendataan tim petugas gabungan di lapangan mencatat sedikitnya ada 914 rumah mengalami rusak berat, 126 rusak sedang, dan 317 rusak ringan, akibat getaran gempa tersebut.

Adapun kerusakan parah juga menimpa puluhan fasilitas publik, antara lain 93 fasilitas pendidikan, 36 fasilitas kesehatan, serta 38 kantor pemerintah.

Sampai dengan Senin (17/8) ada sebanyak 68 korban meninggal dunia. Mereka berasal dari Kabupaten Manggarai sebanyak 26 jiwa, Kabupaten Manggarai Timur 24 jiwa, Kabupaten Nagekeo sebanyak delapan jiwa, Kabupaten Sikka empat jiwa, Kabupaten Ende 2 jiwa, Kabupaten Manggarai Barat dua jiwa, dan Kabupaten Ngada dua jiwa. (RR)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar