Jakarta, indomaritim.com – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menilai KRI Sriwijaya-100 merupakan simbol kemajuan dan modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) RI.
“Kehadiran KRI Sriwijaya di jajaran TNI Angkatan Laut merupakan wujud nyata modernisasi alutsista TNI,” kata Jenderal Agus saat memberikan sambutan dalam upacara pemberian nama kapal dan pengibaran bendera Merah Putih di atas KRI Sriwijaya-100 di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Kamis.
Dalam sambutannya, Agus menjelaskan Indonesia memiliki wilayah yang sangat strategis karena terdiri dari berbagai pulau dan dilintasi oleh jalur-jalur laut utama.
Kondisi ini membuat Indonesia harus mempunyai pertahanan maritim yang kuat agar wilayah laut Indonesia bisa dijaga dengan maksimal.
Menurut Panglima TNI, hadirnya KRI Sriwijaya, dapat memperkuat pertahanan maritim Indonesia karena dilengkapi dengan berbagai fasilitas komando dan persenjataan yang canggih.
“Kehadiran KRI Sriwijaya-100 dengan kemampuan sebagai pusat komando operasi laut yang andal, sekaligus sarana diplomasi pertahanan, dan bantuan kemanusiaan dapat memperkuat peran TNI secara nasional maupun di tingkat regional dan global,” kata Agus.
Dalam sambutan tersebut, Agus juga memberi selamat kepada Kolonel Laut (P) M Fuad Hasan atas jabatan barunya sebagai Komandan KRI Sriwijaya-100.
Dia berharap komandan kapal dan 399 anak buahnya dapat mengawaki KRI Sriwijaya dalam mempertahankan wilayah laut Indonesia serta menjaga kedaulatan negara.
“Selamat bertugas. Kibarkan Sang Merah Putih dengan penuh kebanggaan, serta junjung tinggi kehormatan TNI dan bangsa Indonesia,” tutup Agus.
Spesifikasi KRI Sriwijaya-100
Pada kesempatan lain, Direktur Jenderal Kekuatan Pertahanan Kemhan Marsekal Muda TNI Hendrikus Haris Haryanto menjelaskan secara singkat spesifikasi kapal induk ini ketika rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR di Kompleks Parlemen, Jakarta, 20 Juli 2026.
KRI Sriwijaya-100 yang saat itu masih bernama ITS Giuseppe Garibaldi memiliki panjang 180 meter, lebar 33 meter, dan bobot penuh sekitar 13.850 ton.
Kapal ini memiliki kecepatan maksimum 30 knot dan daya jelajah 20 knot sehingga dapat menempuh jarak hingga 7.000 mil laut.
Garibaldi mampu membawa 18 helikopter dan 16 pesawat tempur serta beragam senjata yang didesain untuk memperkuat pertahanan.
Kapal induk yang selesai dibuat pada 1983 ini juga mampu menampung awak hingga 550 orang, jauh lebih banyak dari daya tampung KRI Brawijaya-320 yang hanya sekitar 399 orang. (Hes)








Komentar