Sumpah Pemuda 2026: Saatnya Generasi Muda Menjadi Pengusaha Maritim

oleh M. Agung Wansyah Y., S. STPel., M. MTr

Kolom144 Dilihat

Jakarta, indomaritim.com – Setiap tanggal 28 Oktober, kita memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk mengingat kembali semangat generasi muda dalam membangun bangsa. Namun, di tengah tantangan ekonomi dan perkembangan industri saat ini, semangat pemuda harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk membangun kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan.

Sebagai praktisi yang sedang merintis dan mengembangkan usaha di sektor maritim, saya menyadari bahwa membangun bisnis pelayaran dan kepelabuhanan bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan keberanian, pengalaman, modal, jaringan, serta kemampuan memahami risiko dan menjaga kepercayaan mitra bisnis.

Namun, saya percaya bahwa generasi muda maritim Indonesia memiliki potensi besar. Para pelaut, ahli pelayaran, tenaga operasional pelabuhan, dan lulusan pendidikan maritim tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga memahami kebutuhan nyata industri.

Namun, kita tidak cukup hanya menyiapkan generasi muda agar siap bekerja di industri maritim. Kita juga harus mendorong mereka agar berani menciptakan usaha dan membuka lapangan kerja. Tentu, semangat saja tidak cukup. Generasi muda harus mau belajar tentang manajemen, keuangan, kontrak, pemasaran, dan pengelolaan risiko. Integritas dan profesionalisme juga harus menjadi fondasi, karena dalam bisnis maritim, kepercayaan adalah salah satu modal yang paling berharga.

Di balik setiap kapal yang berlayar, terdapat rantai kegiatan ekonomi yang melibatkan banyak pihak. Ada kebutuhan awak kapal, jasa perbaikan dan pemeliharaan, penyediaan suku cadang, kebutuhan bahan bakar, pengurusan dokumen, layanan keagenan, pengelolaan logistik, hingga pengangkutan barang dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Seluruh aktivitas tersebut bukan semata-mata urusan operasional pelayaran. Di dalamnya terdapat peluang untuk membangun perusahaan, menciptakan lapangan kerja, mengembangkan teknologi, dan menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Ironis apabila generasi muda yang memiliki pengetahuan teknis dan memahami kebutuhan industri justru hanya melihat dirinya sebagai pencari pekerjaan. Padahal, pengetahuan yang mereka miliki dapat menjadi modal awal untuk membangun usaha.

Lulusan sekolah pelayaran, akademi maritim, perguruan tinggi kepelabuhanan, serta para profesional muda yang bekerja di kapal maupun pelabuhan sesungguhnya memiliki keunggulan tersendiri. Mereka memahami persoalan lapangan, mengenal standar operasional, mengetahui kebutuhan pengguna jasa, dan memiliki pengalaman yang tidak selalu dimiliki oleh calon pengusaha dari sektor lain. Keunggulan tersebut harus diubah menjadi keberanian untuk berwirausaha.

Seorang ahli mesin kapal, misalnya, dapat mengembangkan usaha perawatan dan perbaikan mesin. Profesional yang memahami operasional pelabuhan dapat membangun jasa pendukung kegiatan bongkar muat. Mereka yang berpengalaman dalam administrasi dan dokumen pelayaran dapat merintis perusahaan jasa keagenan kapal sesuai ketentuan yang berlaku.

Begitu pula generasi muda yang memahami teknologi dapat membangun layanan digital untuk mendukung efisiensi operasional kapal, pelabuhan, dan rantai pasok maritim.

Menjadi pengusaha tidak berarti semua orang harus langsung memiliki kapal atau membangun perusahaan besar. Perjalanan kewirausahaan dapat dimulai dari usaha jasa berskala kecil, penyelesaian masalah nyata di lapangan, dan pengembangan solusi yang dibutuhkan industri.

Bidang usaha maritim sangat luas. Tidak hanya bisnis kapal dan pelayaran, tetapi juga mencakup jasa kepelabuhanan, jasa keagenan dan operasional kapal, galangan kapal, reparasi, dan teknik kelautan, marine supplier dan perdagangan, logistik dan rantai pasok maritim, offshore, energi, dan layanan industri, teknologi dan inovasi maritim, lingkungan laut dan keselamatan hingga perikanan dan ekonomi kelautan.

Yang terpenting adalah keberanian memulai, kemampuan membaca peluang, integritas dalam menjalankan usaha, serta kemauan untuk terus belajar.

Organisasi sebagai Jembatan Menuju Peluang Nyata

Di sinilah pentingnya kolaborasi antara pengusaha senior, organisasi kemaritiman, dunia pendidikan, dan pemerintah. Generasi muda membutuhkan ruang belajar, mentor, akses jejaring, serta kesempatan untuk membuktikan kemampuannya.

Dalam peran saya sebagai Wakil Ketua Umum Ikatan Pengusaha Muda Maritim (IPMMar), Ketua Bidang Maritim Kelautan dan Perikanan HIPMI Depok, serta anggota INSA, saya memandang bahwa penguatan pengusaha muda maritim perlu menjadi agenda bersama.

Organisasi tidak boleh berhenti sebagai tempat berkumpul, berdiskusi, dan menyelenggarakan kegiatan seremonial. Organisasi harus mampu menjadi jembatan yang menghubungkan generasi muda dengan pengetahuan, mentor, pasar, mitra strategis, dan peluang usaha.

IPMMar dapat berperan dalam menumbuhkan minat dan kapasitas kewirausahaan generasi muda maritim. HIPMI dapat memperluas perspektif bisnis, memperkuat jejaring antarpengusaha, dan mendorong lahirnya wirausaha baru. Sementara itu, interaksi dengan ekosistem industri pelayaran, termasuk melalui jejaring profesional dan asosiasi seperti INSA, ABUPI dan Asosiasi maritim lainnya, dapat membantu generasi muda memahami standar, kebutuhan, serta dinamika bisnis pelayaran yang sesungguhnya.

Aktifitas pemuda pada sebuah kapal. Foto: indomaritim.com/Ist
Aktifitas pemuda pada sebuah kapal. Foto: indomaritim.com/Ist

Kolaborasi tersebut perlu diterjemahkan ke dalam program yang konkret.
Pertama, membangun program mentoring pengusaha muda maritim, yang mempertemukan calon pengusaha dengan pelaku industri berpengalaman.

Kedua, menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan berbasis kasus nyata, mulai dari penyusunan rencana bisnis, perhitungan biaya, pengelolaan arus kas, pemahaman kontrak, hingga strategi mendapatkan pelanggan.

Ketiga, membangun forum kemitraan usaha yang mempertemukan perusahaan besar, usaha kecil, pemasok, penyedia jasa, dan calon pengusaha muda untuk menjajaki peluang kerja sama secara transparan.

Keempat, mendorong inkubasi bisnis maritim yang membantu generasi muda mengembangkan gagasan menjadi usaha yang layak, terukur, dan berkelanjutan.

Kelima, memperluas pemanfaatan teknologi digital agar perusahaan maritim muda mampu meningkatkan efisiensi, memperluas akses pasar, dan bersaing berdasarkan kualitas layanan.
Semua program tersebut harus disusun dengan target yang dapat diukur.

Keberhasilan tidak cukup dinilai dari jumlah peserta seminar atau banyaknya sertifikat yang diterbitkan, tetapi juga dari jumlah usaha yang benar-benar lahir, kemitraan yang terbentuk, pelanggan yang diperoleh, lapangan kerja yang tercipta, dan perusahaan yang mampu bertahan serta berkembang.
Kita perlu mengubah orientasi dari sekadar membangkitkan semangat menjadi membangun kemampuan dan menciptakan hasil nyata.

Sumpah Pemuda dan Gerakan Pengusaha Maritim Muda

Pada akhirnya, makna Sumpah Pemuda tidak boleh berhenti pada upacara, slogan, atau seremoni tahunan. Semangat persatuan yang diwariskan oleh para pemuda 1928 harus diterjemahkan sesuai dengan tantangan zaman.

Jika dahulu para pemuda menyatukan tekad untuk membangun identitas kebangsaan, hari ini generasi muda harus menyatukan kompetensi, keberanian, inovasi, dan kekuatan ekonomi untuk membangun masa depan Indonesia.

Generasi muda maritim dari berbagai daerah perlu saling terhubung. Pelaut, ahli mesin kapal, praktisi pelabuhan, mahasiswa, tenaga logistik, profesional, dan calon pengusaha harus melihat dirinya sebagai bagian dari ekosistem yang sama.

Jangan sampai potensi besar yang dimiliki anak-anak muda kita terhambat hanya karena kurangnya akses terhadap mentor, terbatasnya jejaring, atau tidak tersedianya ruang untuk memulai.

Kita membutuhkan lebih banyak pengusaha muda yang berani memulai dari bawah, lebih banyak perusahaan yang memberi kesempatan kepada generasi baru, serta lebih banyak kolaborasi yang mengubah keahlian menjadi peluang usaha.

Saya percaya, masa depan maritim Indonesia tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak kapal yang berlayar atau seberapa besar pelabuhan yang dibangun. Masa depan itu juga ditentukan oleh seberapa banyak generasi muda yang mampu menciptakan usaha, membuka lapangan kerja, menghadirkan inovasi, dan membangun perusahaan maritim Indonesia yang tangguh.

Karena itu, pada momentum Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2026 ini, saya mengajak seluruh generasi muda maritim Indonesia untuk mulai mengubah cara pandang. Jangan hanya bertanya, di perusahaan mana saya akan bekerja? Mulailah juga bertanya, masalah apa di industri maritim yang bisa saya selesaikan, usaha apa yang dapat saya bangun, dan berapa banyak orang yang kelak dapat bekerja bersama saya?

Kepada para pengusaha senior, mari buka ruang bagi regenerasi. Kepada dunia pendidikan, mari dekatkan pembelajaran dengan realitas industri. Kepada pemerintah dan lembaga pembiayaan, mari ciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya pengusaha muda yang kompeten dan bertanggung jawab.

Kepada seluruh organisasi kemaritiman, mari perkuat kolaborasi agar potensi generasi muda tidak berhenti menjadi wacana. Sebab, perjuangan membangun Indonesia belum selesai. Hari ini, salah satu bentuk perjuangan itu adalah menciptakan kemandirian ekonomi melalui kewirausahaan.
Sumpah Pemuda bukan hanya tentang menyatukan bangsa, tetapi juga tentang menyatukan tekad untuk membangun masa depannya.

Saatnya generasi maritim Indonesia naik kelas: dari tenaga profesional menjadi pencipta peluang, dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja, dan dari pengguna peluang menjadi pembangun industri.

Selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026. Saatnya pemuda maritim berani berusaha, berkarya, dan membangun Indonesia dari lautnya. (End)

M. Agung Wansyah Y.,  S. STPel., M. MTr: Wakil Ketua Umum Ikatan Pengusaha Muda Maritim (IPMMar)/Ketua Bidang Maritim, Kelautan dan Perikanan HIPMI Depok/Anggota INSA (Indonesian National Shipowners Association)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar