Pacu Jalur Sampan dari Rimba ke Tepian Narosa di Sungai Kuantan

Daerah125 Dilihat

Pekanbaru, indomaritim.com – Riuh rendah suara sorak-sorai belum lagi terdengar di Sungai Kuantan, namun jauh di dalam rimbunnya hutan Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau, sebuah “ritual besar” terus dihidupkan demi melahirkan sebilah perahu jalur sepanjang 25 hingga 30 meter.

Bagi masyarakat setempat, perahu jalur ini bukan sekadar kendaraan kayu untuk berlomba, melainkan simbol marwah, harga diri kampung, dan perwujudan spiritualitas yang hidup sejak ratusan tahun lalu. Ada perjalanan panjang dalam melahirkan jalur.

Suatu tindakan selalu berawal dari musyawarah desa (rapek kampung) untuk menyatukan niat seluruh warga. Seperti yang dituturkan oleh Raja Muhammad Depria, Ketua Tim Jalur “Putri Anggun Sibiran Tulang” dari Desa Banjar Padang, Kecamatan Kuantan Mudik, Kabupaten Kuantan Sengingi.

Menurut Antara, para tetua adat dan tokoh masyarakat, hingga pemuda, bermusyawarah dulu untuk keputusan besar membuat jalur baru pada akhir tahun 2023. Mereka ingin memiliki jalur baru untuk menambah kapasitas muatan dari buatan sebelumnya yang hanya memuat 51 pendayung menjadi 61 pendayung agar daya pacu di sungai semakin maksimal. Jalur adalah sebutan untuk perahu tradisional di daerah itu.

Berangkat dari rapat desa yang berlangsung alot selama dua jam, disepakati untuk kembali membuat jalur baru. Mereka memercayakan pekerjaan penuh amanah itu kepada yang ahli, yakni orang yang biasa mencari kayu di hutan.

Bersama sang ahli tersebut, tim desa melakukan survei langsung ke tiga lokasi berbeda di kecamatan tetangga, mulai dari kawasan konsesi PT Merauke, kawasan lindung Bukit Betabuh, hingga Bukit Tabandang.

Dalam dua hari mereka terus menyisir rimba untuk mencari pohon yang diinginkan untuk dijadikan jalur. Tidak ingin mengabaikan peran negara, sebelumnya, mereka sudah mengantongi izin dari dinas kehutanan setempat.

Pencarian berlabuh pada pohon kayu Marsawa yang ideal di Bukit Tabandang. Setelah disetujui dan sedikit ritual berterima kasih kepada alam, para pencari ini lalu menebangnya, kurang lebih 30 menit saja.

Setelah tumbang, ranting beserta daun ditebas dari pokok pohonnya, hingga menjadi gelondongan. Selanjutnya kayu itu ditarik menggunakan alat berat sampai ke jalan umum.

Jika tak ada alat berat, penarikan kayu tersebut dilakukan dengan ritual maelo jalur yang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat. Setelah sampai di jalan umum, salah satu ujung kayu ditempatkan pada bagian belakang truk tronton, sedangkan bagian ujung lainnya diletakkan di atas dua roda, sehingga kendaraan itu akan terlihat begitu panjang.

Begitu batang pohon raksasa utuh, tanpa sambungan, itu tiba di desa, pengurus langsung menghubungi spesialis tukang pembuat jalur yang sangat diinginkan oleh masyarakat desa, yaitu Wardison. Nama ini tak asing lagi bagi masyarakat Kuantan Singingi karena telah membuat lebih dari 200 jalur sejak tahun 2000.

Bersama sekitar lima orang anggotanya, Wardison mulai mengeruk permukaan kayu untuk dijadikan ruang duduk pendayung jalur. Kayu itu kemudian dipahat, rongganya disisir. Kemudian, dibentuk anatomi perahu jalur yang meruncing di kedua ujungnya.

Setelah pengerjaan kasar oleh tukang selesai, warga desa kembali mematangkan mufakat melalui musyawarah untuk menentukan jadwal pelayuran atau pembakaran jalur. Prosesi pembakaran ini sangat krusial agar lambung jalur mengembang luas dan melar dengan sempurna. Rapat lanjutan itu untuk membicarakan kebutuhan prosesi pembakaran yang dilakukan pada tengah malam.

Raja Muhammad Depria menceritakan bahwa proses pembakaran jalur dengan nama “Putri Anggun Sibiran Tulang” itu dilakukan dari pukul 24.00 WIB, hingga pukul 06.00 pagi.

Pembakaran menggunakan tumpukan kayu bakar di bawahnya, sementara jalur diletakkan pada di atas tiang dari kayu dengan tinggi sekitar 1 meter. Pembakaran dilakukan pada malam hari karena angin yang cukup tenang dibanding siang. Pelayuran berlangsung sembari diselingi acara makan bersama seluruh warga untuk menjaga kebersamaan.

Usai dibakar, perahu didiamkan terlebih dahulu selama satu hingga dua pekan, hingga bentuknya benar-benar stabil. Tahap berikutnya adalah proses finishing, termasuk memasang tempat duduk para pendayung yang disebut ulea-ulea, dengan memanfaatkan sisa-sisa dari kayu pembuatan jalur tersebut.

Ada 61 orang yang bisa berada di atas jalur, baik yang duduk maupun berdiri di atas Putri Anggun Sibiran Tulang. Di bagian paling depan atau haluan perahu, berdiri seorang tukang tari (pemberi isyarat) yang menari dengan gerakan khas untuk memberi semangat, sekaligus petunjuk ritme kayuhan kepada rekan-rekannya.

Biasanya yang berperan sebagai penari adalah anak laki-laki yang atau sering disebut anak coki. Tarian merekalah yang saat ini membuat Pacu Jalur dikenal dunia lewat fenomena “Aura Farming”.

Tepat di belakangnya, terdapat tukang concang (komando) yang bertugas mengaba-ngabai dan menentukan kapan anak pacu harus mendayung biasa atau melakukan kayuhan cepat (sprint) saat mendekati garis finis. Di sepanjang lambung perahu, duduklah barisan anak pacu (pendayung utama) berjumlah 61 orang yang menjadi mesin penggerak utama naga air tersebut.

Sementara itu, di bagian tengah terdapat tukang onjai yang menggoyang-goyangkan badannya secara ritmis guna memberikan efek daya dorong pegas pada haluan perahu agar dapat melaju membelah ombak Sungai Kuantan.

Terakhir, di ujung belakang perahu berdiri tukang kemudi (pawang kemudi) yang memegang kendali penuh untuk menjaga arah haluan jalur tetap lurus dan tidak melenceng dari lintasan pacu yang telah ditentukan.

Usai dites, jalur Putri Anggun ini disepakati telah sempurna dan tidak ada perbaikan. Akhirnya jalur ini pun dicat dengan tulisan dan hiasan khas daerah.

Dengan mengandalkan kekuatan para pemuda desa setempat sebagai pendayung utama, jalur ini memulai debut perdananya pada tahun 2024. Pada saat itu Putri Anggun langsung menorehkan prestasi gemilang, dengan menembus babak final dan juara.

Hingga kini, mahakarya gotong royong ini masih akan digunakan untuk Festival Pacu Jalur 2026. Mereka akan tampil pada 26 Juni 2026 di Tepian Narosa, Sungai Kuantan, Teluk Kuantan, dalam acara pembukaan MTQ tingkat Provinsi Riau, sekaligus Pacu Jalur Rayon II Festival Pacu Jalur 2026.

Festival itu, hampir dipastikan akan memunculkan kembali unggahan viral dengan tanda pagar “Pacu Jalur”. Tidak banyak yang tahu bahwa di balik riuhnya suguhan tarian di atas perahu tradisional itu adalah mahakarya hidup yang dihasilkan dari kepiawaian tukang kayu, keberadaan pohon di hutan yang terus dipelihara, dan juga semangat warga yang tidak pernah luntur untuk menjaga warisan leluhur.

Semua itu menunjukkan satu semangat bahwa warisan tradisional tidak harus menyerah pada realitas modern yang menjanjikan suatu kemudahan dan hasil instan. Semangat warga di salah satu desa di Kuantan Singingi ini adalah kabar gembira mengenai gambaran besar bahwa semua elemen dari bangsa ini tidak pernah lelah untuk menjaga warisan budaya agar tidak punah.

Puncaknya, pada Agustus 2026 nanti, para juara jalur dari berbagai rayon akan beradu kuat untuk membuktikan siapa pemilik jalur tercepat. Gembira, sedih, dan haru bercampur, usai proses yang panjang perjuangan dalam menjaga budaya leluhur tetap lestari, lalu bangkit kembali. (Edo)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar