Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Geopolitik dunia ditandai oleh penggunaan artificial intelligence, blockchain, robotic, internet of things, big data, dan pendukung digital lainnya secara masif akan berdampak terhadap kesejahteraan bersama, siapapun punya peluang untuk maju. Ditengah masih berjalannya revolusi industri 4.0 yang mendorong 4 instrumen penting. Pertama data, komputasi, koneksi. Kedua analisis data dan intelijen. Ketiga interaksi manusia dan mesin. Keempat konversi digital ke fisik. Keempatnya biasa disebut teknologi enabler yang saat ini memback up secara penuh pembangunan di suatu negara. Bahkan pemenangan politikpun dijalankan dengan mengintegrasikan 4 instrumen ini melalui big Data.
Terbentuklah dewasa ini masyarakat 5.0 (Society 5.0) yang berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial melalui sistem yang sangat mengintegrasikan dunia maya dan ruang fisik. Sebagaimana yang kita mafhum paska krisis kesehatan yang menimpa kita, sekolah dan kantor sudah sangat terbiasa dengan zoom meeting disemua tempat. Mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe adalah sosok yang menggagas konsep Society 5.0 ini. Sebuah konsep yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based) sebagai pengembangan dari revolusi industri 4.0 yang dinilai berpotensi mendegradasi peran manusia.
Melalui Society 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi Big Data yang dikumpulkan melalui internet pada segala bidang kehidupan (the Internet of Things) menjadi suatu kearifan baru, yang akan didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusiaan. Transformasi ini akan membantu manusia untuk menjalani kehidupan yang lebih bermakna. Hari ini jelas negara sangat memanfaatkan Internet of Things yang di simpan ke dalam Big Data (data yang terhimpun dalam jumlah sangat besar) untuk kepentingan politik negara.
Khususnya di Indonesia mulai dari data Dukcapil, BPJS, dan data BPS lainnya yang kemudian diproses oleh Artificial Intelligence melahirkan “pabrik cerdas” bagi pergerakan politik pemenangan presiden dan partai politik. Dalam Society informasi masa lalu (Society 4.0), orang akan mengakses layanan cloud (database) di dunia maya melalui internet dan mencari, mengambil, dan menganalisis informasi atau data. Sementara itu, di Society 5.0, sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik terakumulasi di dunia maya. Setelah data besar ini dianalisis oleh kecerdasan buatan, hasil analisisnya diumpankan kembali ke manusia dalam ruang fisik dalam kampanye politik yang halus sampai propaganda yang keras.
Society 5.0 yang menjadikan dunia yang semakin terkoneksi tanpa “batas” bahkan akan mengubah cara pandang manusia terhadap komunikasi politik. Tidak perlu harus selalu mobilisasi massa untuk membentuk tekanan politik suatu negara, cukup dengan menggerakkan ekosistem masyarakat dengan suatu issue. Kebijakan suatu negara bisa saja berubah dan terjadi konsolidasi politik didalamnya. Inilah bentuk penggabungan teknologi Big Data yang feedback ke ruang fisik demi sebuah kepentingan politik. Kekuatan yang akan bermuara pada satu tatanan kearifan baru yang akan menguji sekuat apa nilai kebangsaan kita. Apakah transformasi ini akan memberikan ruang tak kendali bagi kepentingan globalis mengendalikan negeri ini, atau masyarakat cerdas yang justru akan mengendalikan dunia.







Komentar