Satu Tahun Menjelang Pemilu Presiden 2024 : Survei Nasional Trust Indonesia

Catatan Diplomasi Politik Pelaut Nuswantara

Berita, Nasional, Politik1834 Dilihat

Pelaut ADIPATI  l Kalitbang INDOMARITIM  l  Direktur Eksekutif TRUST  l Presiden SPI  l  Volunteer INMETA  

Sebagai langkah untuk mengambil bagian dalam pencerdasan politik kepada masyarakat dalam menghadapi pesta demokrasi Pemilu 2024, Trust Indonesia Research & Consulting menyajikan data dan memberikan literasi dengan mengusung arsitektur strategi pembangunan demokrasi berkelanjutan. Tahun 2023 adalah tahun politik dimana hasil Survei Nasional yang dilakukan tanggal 28 Januari – 6 Februari 2023 lalu secara offline di 38 Provinsi bisa memberikan catatan kritis kepada partai-partai politik dan semua stakeholder yang akan terlibat dalam kontestasi pileg dan pilpres 2024 mendatang.

Hasil survei yang dilakukan menemukan fakta menarik dari penilaian publik terkait komposisi pasangan capres yang digadang-gadang akan bertarung di feberuari 2024. Dari simulasi 3 pasangan Capres-Cawapres, duet Prabowo-Ganjar bersaing sengit dengan pasangan Anies-AHY. Walaupun duet pasangan ini masih sangat bergantung pada dinamika politik yang akan terjadi ke depan. Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo dan Anies Baswedan masih memiliki kans yang sama besar untuk menjadi Calon Presiden 2024. Anis mendapatkan tiket dari koalisi perubahan yang digawangi Nasdem, Demokrat dan PKS. Sementara PDIP tampak semakin menunjukkan sinyalemen untuk tidak mencalonkan Ganjar Pranowo sebagai Calon Presiden 2024, dan Prabowo dengan Gerindra nya masih terus berkomunikasi intens dengan kolega koalisinya PKB.

Mayoritas responden mengaku sudah mantap menetapkan pilihan terhadap Calon Presiden, dengan angka sebesar 61,7 persen. Sehingga dengan demikian, mereka akan sulit mengubah pilihan Capres yang sudah ditetapkan sejak jauh-jauh hari. Fenomena ini sangat berkaitan dengan kecenderungan masyarakat Indonesia yang memilih Calon Presiden berdasarkan kesukaan dan ketidaksukaan pribadi. Dalam pengalaman, susah untuk mengubah kecenderungan pilihan pemilih masyarakat Indonesia terhadap figur Capres. Sebab yang bermain pada akhirnya adalah faktor kecenderungan like or dislike. Sedikit sekali pemilih yang mempertimbangkan aspek gagasan dan tawaran program yang diajukan oleh seorang Capres.

Berdasarkan hasil survei (simple majority), Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto adalah kandidat yang memiliki elektabilitas tertinggi sebagai Capres. Bahkan berdasarkan simulasi tunggal dan berpasangan (absolut majority) sekalipun ketiga Capres tersebut memiliki kekuatan elektoral yang sama kuat. Puan Maharani yang hari ini masih memiliki elektabilitas yang rendah menunjukkan bahwa mesin politik PDIP masih belum bekerja secara optimal. Karena secara struktural PDIP sendiri masih belum menentukan Capres dan partai koalisi. Penentuan kriteria calon Wakil Presiden harus hati-hati dilakukan oleh Parpol karena dapat merubah peta dan strategi pemenangan. Sekalipun Ganjar Pranowo, Anies Baswedan dan Prabowo Subianto memiliki eletabilitas tertinggi, namun jika salah memilih pasangan calon Wakil Presiden maka dapat menurunkan elektabilitas.

Berdasarkan hasil survei, partai tiga besar (partai papan atas) masih belum bergeser yaitu PDIP, Partai Gerindra dan Partai Golkar. Ini menunjukkan bahwa partai papan atas memiliki basis tradisional yang loyal dan jaringan akar rumput (grassroots) yang kuat. Sementara itu pada partai menengah terjadi pergeseran, bahkan partai politik yang saat ini memiliki kursi di Senayan tingkat elektabilitasnya dibawah parliamentary threshold yakni PAN dan PPP. Hal ini bukan berarti 2024 PAN dan PPP tidak memiliki kans untuk turnback ke Senayan, melainkan mesin politik PAN dan PPP masih belum bekerja secara optimal. Ketokohan didalam partai politik tidak berbanding lurus dengan elektabilitas (top of mind). Artinya, jabatan strategis didalam partai politik tidak menjadi jaminan bahwa petinggi partai politik tersebut akan memiliki elektabilitas (top of mind) yang lebih tinggi dibandingkan dengan kader biasa.

Hasil survei membuktikan bahwa temuan soal efek ekor jas (coat tail effect) hanya menguntungkan dua partai yang sejauh ini sudah menyatakan dukungannya terhadap satu calon presiden (Capres). Pertama, jika melihat trend elektabilitas, efek ekor jas berhasil mengerek suara Partai Nasdem sebesar 3,4 persen. Kedua, dalam hal yang sama, efek ekor jas juga berhasil menaikkan suara Partai Demokrat sebanyak 0,1 persen. Perbedaan dampak hasil efek ekor jas tersebut, sangat berkaitan erat dengan massifnya manuver kampanye Partai Nasdem dalam mendukung pencapresan Anies Baswedan. Profil Capres Anies Baswedan berhasil mendatangkan coat tail effect bagi partai politik pendukung. Karena sejauh ini, baru Partai Nasdem dan Partai Demokrat yang mendeklarasikan dukungan, maka hanya kedua partai tersebut yang mendapat keuntungan tersebut. Meskipun coat tail effect-nya juga berbeda karena cuma Partai Nasdem yang habis-habisan ‘menjual’ Anies sebagai Capres.

Namun demikian, meski belum mendapat efek ekor jas, PDIP masih bertengger sebagai partai politik pemilik elektabilitas tertinggi yakni sebesar 20,3 persen. Disusul secara berturut-turut, Partai Gerindra 13,6 persen, Partai Golkar 9,0 persen, Partai Nasdem 7,3 persen, dan PKS sebesar 7,2 persen. Tingginya elektabilitas PDIP disebabkan oleh faktor keberadaan pemilih tradisional yang loyal dan jaringan akar rumput (grassroots) yang kuat dan dominan pada partai tersebut. Walau tanpa coat tail effect, PDIP tetap memiliki elektabilitas yang tinggi karena sifat pemilihnya yang tradisional. Ini juga sejalan dengan temuan survei yang menunjukkan alasan sudah terbiasa memilih partai sejak dulu sebagai faktor paling tinggi dalam mempengaruhi pemilih. Kurang lebih sekitar 29,7 persen.

 

 

 

Adv Banner

Komentar