Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Ditengah hingar bingar perseteruan dan skandal politik di Indonesia paska Pilpres februari yang lalu, negeri jiran Malaysia tengah menyalip kekuatan geostrategik semikonduktor memanfaatkan keterpisahan ekonomi yang sedang berlangsung antara Tiongkok dan Amerika Serikat. Semikonduktor akan sangat penting bagi teknologi dasar kecerdasan buatan (AI), pencetakan 3D, Internet of Things, dan robotika canggih, dan kekurangan apa pun di dalamnya akan merugikan tidak hanya prospek ekonomi perusahaan teknologi tetapi juga negara-negara yang ingin menerapkannya.
Keberhasilan Malaysia dalam menarik investasi pada tahap akhir proses produksi semikonduktor kemungkinan akan terus berlanjut di tahun-tahun mendatang, namun upaya Malaysia untuk meningkatkan rantai nilai akan menjadi tantangan di tengah kekurangan tenaga kerja dan meningkatnya ketegangan AS-Tiongkok. Dalam beberapa bulan terakhir, para pemimpin industri dari Amerika Serikat seperti Intel, NVIDIA, Texas Instruments, Applied Materials, Lam Research, Micron, dan Hewlett Packard telah memberikan komitmen miliaran dolar untuk membangun atau memperluas kehadiran mereka di Malaysia, banyak di antaranya dengan fokus pada industri chip.
Fenomena ini tidak hanya terjadi di perusahaan-perusahaan AS, karena Infineon (Jerman), Bosch (Jerman), AT&S (Austria), Ericsson (Swedia), dan Simmtech (Korea Selatan) juga berdatangan ke negara tersebut, dan sebagian besar aktivitas ini terjadi di masa lalu 18 bulan. Pada tahun 2023, Malaysia menjadi eksportir semikonduktor terbesar ke Amerika Serikat. Perusahaan Tiongkok — khususnya yang membuat mesin untuk manufaktur semikonduktor — telah menunjukkan minat serupa, meskipun ketegangan perdagangan AS-Tiongkok telah menciptakan ketidakpastian.
Malaysia, dengan reputasi yang kuat sebagai pusat produksi semikonduktor di Asia, telah berhasil menarik minat investor asing untuk memperluas kehadiran mereka di negara tersebut. Upaya pemerintah dalam memperluas cakupan produk yang diekspor, sebagaimana ditetapkan dalam Rencana Induk Industri Baru (NIMP) Malaysia 2030, telah memberikan dorongan tambahan bagi investasi dalam produksi chip. Investasi besar dari perusahaan-perusahaan AS dan Eropa, serta meningkatnya aktivitas ekspor semikonduktor ke Amerika Serikat, menandakan kepercayaan yang terus tumbuh dalam kemampuan Malaysia untuk menjadi pemain kunci dalam industri ini.
Meskipun demikian, Malaysia dihadapkan pada sejumlah tantangan yang perlu diatasi. Kekurangan tenaga kerja terampil dalam industri semikonduktor, bersama dengan tingkat pergantian karyawan yang tinggi, menjadi hambatan dalam mengoptimalkan potensi produksi. Persaingan regional dari negara-negara ASEAN lainnya juga memaksa Malaysia untuk terus meningkatkan daya saingnya. Selain itu, ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok juga memberikan ketidakpastian tambahan bagi industri semikonduktor Malaysia. Meskipun Malaysia telah menjadi eksportir terbesar ke Amerika Serikat dalam hal semikonduktor, risiko terkait kebijakan perdagangan yang berubah-ubah antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia ini dapat memengaruhi arus investasi dan ekspor semikonduktor di masa depan.
Dengan semua ini, upaya Malaysia untuk meningkatkan rantai nilai industri semikonduktor akan menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan yang telah dicapai untuk menggantikan dominasi Indonesia di ASEAN. Dengan menanggapi tantangan-tantangan ini melalui investasi dalam pelatihan tenaga kerja, peningkatan inovasi, dan kerjasama regional, Malaysia memiliki potensi untuk terus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat produksi semikonduktor terkemuka di dunia. Lalu apa pengaruhnya bagi Indonesia sebagai negara tetangga dan mitra dagang Malaysia sendiri. Dalam forum diskusi Kedubes Malaysia bersama Trust Indonesia beberapa waktu yang lalu memberikan banyak masukan terkait hubungan bilateral diantara kedua negara, salah satunya dalam konteks kerjasama pengembangan teknologi.
Pertama, Indonesia dapat belajar dari keberhasilan Malaysia dalam menarik investasi asing dalam industri semikonduktor. Sebagai negara dengan populasi yang besar dan pertumbuhan ekonomi yang stabil, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi investasi semikonduktor yang menarik. Melalui studi kasus Malaysia, Indonesia dapat mengidentifikasi strategi dan kebijakan yang efektif untuk menarik lebih banyak investasi dalam industri ini. Kedua, adanya ekspansi industri semikonduktor di Malaysia juga dapat memberikan peluang bagi Indonesia dalam hal kemitraan dan kerja sama. Dalam menghadapi tantangan bersama seperti ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok, Indonesia dan Malaysia dapat saling mendukung dan berkolaborasi untuk memperkuat kedudukan keduanya dalam rantai pasokan semikonduktor global.
Terakhir tentu Indonesia juga dapat memperkuat posisinya sebagai pemain utama dalam rantai pasokan semikonduktor regional dengan meningkatkan investasi dalam infrastruktur dan sumber daya manusia yang berkaitan dengan industri ini. Dengan demikian, Indonesia dapat menjadi mitra strategis bagi Malaysia dalam memperluas jejak industri semikonduktor di Asia Tenggara. Namun apakah keterkaitan antara Malaysia dan Indonesia dalam industri semikonduktor memang akan menjadi prioritas dua negara? Jawabannya tentu akan kembali kepada seperti apa visi kepemimpinan bangsa Indonesia kedepan. Fokus pada pembenahan dalam negeri dengan project mercusuarnya IKN, atau politik bebas aktif luar negeri untuk kembali membawa Indonesia dan ASEAN mengendalikan dunia dengan Non Bloknya. Kita tunggu saja !!









Komentar