Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Sebagai warga dari negara maritim, saya pernah mengalami diskusi ringan tapi berat. Diskusi yang mengajarkanku arti sebuah kebanggaan, bangga untuk menjadi bangsa maritim. Lawan diskusi yang kebetulan lahir sebagai bangsa urban dari zona +1 dengan bangganya menyatakan merekalah pemilik samudra itu. Kata samudra yang merupakan kesepahaman kita akan hamparan lautan luas, pada dasarnya adalah tutupan dasar dari planet kita.
Dari kebanggaan itu, saya belajar betapa hamparan kehidupan di alam semesta ini dihadirkan untuk dilewati, diamati dan diambil kemanfaatannya. Dari hamparan ini kita mengenal segala rintangan, untuk menempa kemampuan diri bertahan hidup di permukaannya. Karenanya sedari dulu manusia terobsesi untuk menaklukkan hamparannya dengan petualangan lautnya. Namun laut selalu enggan untuk melepaskan rahasianya dengan mudah. Bahkan dengan pencapaian monumental dari para penjelajah, ilmuwan, dan ahli kelautan masa lalu, kita hampir tidak pernah mampu menjelajahi seluruh permukaannya.
Apalagi untuk menyentuh setiap misteri disetiap jengkal lautan dalamnya. Bahkan saat teknologi tercanggih sekalipun, kita baru dapat menjelajahi hanya beberapa persen lautannya. Dengan kesimpulan lebih dari 90 persen keanekaragaman hayati dunia itu ternyata berada di lautan. Misteri itu terkuak indah dalam roman ilmiah yang terus akan terbuka dalam setiap penelitian, seperti suara indah detak jantung ubur-ubur hingga penggalan cerita pertarungan hidup mati antara gurita dan udang mantis. Maka percayalah bahwa setiap siklus kehidupan kita sebenarnya tersambung dengan kisah romansa mereka didalamnya lautan itu.
Semua air yang jatuh ke daratan, dari puncak hutan belantara yang tinggi hingga dataran paling datar dalam aliran lembah akan mengakhiri perjalanannya dilautan. Dan meskipun ini telah terjadi selama jutaan tahun yang tak terhitung jumlahnya, jejak ekologi spesies kita yang berkembang di abad terakhir telah mempengaruhi siklus secara mendalam. Maka percayakah kita dari sampah plastik sehari-hari kita yang tersapu jauh kelaut akan merusak ekosistem yang ada didalamnya.
Inilah ilustrasi kalimat kebanggaan itu, yang bahkan saat tidak pernah mendengar deru gelombang pasang ditepi pantai. Semua orang merasa bahwa dia memiliki kedekatan dengan kehidupan dilaut terdalam itu. Karena kita adalah penghuni dari semesta yang luas ini dalam harmoni. Sebagai bakti kepada sang Maha, untuk saling menjaga kebaikan antara sesama. Saatnya mengulik lmu pengetahuan tentang sistem laut dan penghuninya, untuk kesejahteraan manusia dan kebanggaan bangsa maritim yang besar ini. Sebagaimana kata Sukarno .. `Aku lebih suka lukisan samudra yang gelombangnya menggebu-gebu daripada lukisan sawah yang adem ayem tentram`.











Komentar