Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Pertemuan elit pemimpin yang bersifat rahasia tengah digelar bangsa-bangsa Arab hari ini mengawali tahun 2024. Namun pandangan bahwa mereka akan Bersatu untuk melakukan perlawanan terbuka ternyata masih jauh dari harapan, karena pembahasan kali ini lebih dimotivasi untuk mengantisipasi miniature pertempuran acak yang akan terjadi diwilayah mereka akibat strategi lanjutan Israel untuk memburu semua pemimpin Hamas diseluruh dunia. Bahkan sejak awal desember 2023, The Wall Street Journal telah melaporkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu telah mengarahkan badan intelijen negaranya untuk melacak pejabat tinggi Hamas yang tinggal di Lebanon, Turki dan Qatar.
Memasuki awal tahun 2024, Israel benar-benar telah memasuki fase perburuan pembunuhan terhadap para pemimpin Hamas di seluruh dunia. Sebuah awal benturan api geopolitik dunia akibat gejolak antisemitisme dan akan membuat potensi memukul balik dalam zona kawasan termasuk negara sekutu di Eropa. Pembalasan dari Hamas akan ancaman eskalasi regional termasuk potensi keterlibatan penguasaan geopolitik yang lebih besar. Salah satunya diakibatkan oleh adanya perlawanan serius dari beberapa negara yang merasa terancam dengan penguasaan teknologi militer tingkat tinggi dinegaranya, salah satu yang sudah bereaksi keras adalah Iran dan akan berlanjut ke negara-negara lainnya.
Dari ancaman inilah mengapa Iran mulai membuat strategi “pertahanan maju” atau “pertahanan ofensif” sebagai peluang penguasaan geopolitik dan tentunya sebagai upaya membendung ancaman terhadap keamanan nasional Iran dengan menghadapi musuh-musuhnya sejauh mungkin dari perbatasannya. Setelah pergolakan regional Arab Spring tahun 2011 di Mesir, Iran memang telah membentuk Poros Perlawanan memperluas kedalaman strategis regionalnya. Hal ini melibatkan penguatan kelompok-kelompok yang setia kepada Iran dan berkomitmen terhadap ideologi dan strategi anti-Zionis, termasuk membangun pangkalan militer Poros Perlawanan Houthi di Yaman.
Pejabat militer Iran menegaskan tengah terbangun rencana penolakan meyeluruh atas kedaulatan Israel yang diyakini sebagai sebuah pangkalan militer terdepan Amerika sebagai alat untuk melaksanakan rancangan regional Washington. Begitu juga dengan pandangan bahwa Israel bisa saja runtuh jika gagal menahan serangan balasan Hamas yang sangat mereka yakini akan terjadi. Mengingat kerawanan sosial yang sedang terjadi dikalangan Yahudi Israel akibat tidak memiliki hubungan yang tulus terhadap tanah Israel. Berbada 180 derajat dengan penduduk asli Palestina yang sangat mengerti sejarah dan rela mati bersamanya.
Mayoritas penduduk Israel hari ini mulai menyadari keterasingan mereka dari tanah air dan kepalsuan “entitas” mereka dan menganggap Negara Israel dapat saja ditukar sesuai perjanjian internasional. Pemimpin Hizbullah Lebanon Hassan Nasrallah pun yakin bahwa tentara Israel tidak akan mengambil langkah lanjutan kecuali jika dukungan Amerika terhadap pasokan kendaraan lapis baja dan kekuatan udara tidak dilanjutkan. Sementara baik Amerika maupun Israel sedang berada dibawah tekanan aliansi untuk menghentikan perang. Perlawanan menurut Hasan adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan kembali martabat dan tanah Arab yang diambil secara tidak adil oleh entitas perampas kekuasaan diseluruh wilayah daratan Palestina hingga lautannya.
Saat ini terbukti poros perlawanan yang digawangi oleh sayap militer Hamas Brigade Izzudin el Qossam telah mendefinisikan ulang konsep kemenangan untuk membuat kekalahannya menjadi mustahil hingga pada akhirnya mereka dapat memberikan pukulan terakhir yang mematikan. Setelah perlawanan Yaman atas jalur perdagangan laut Israel di Laut Merah, penggunaan teknologi militer tingkat tinggi akan diaktifasi secara maksimum disemua wilayah pertempuran di Timur Tengah. Teknologi yang berpotensi menyulut konflik elit geopolitik dengan kemampuan yang belum pernah dipraktekkan sebelumnya akan terjadi. Sementara arsitektur pencegahan konflik multilateral yang dikembangkan BK PBB akan berhadapan dengan tantangan terberatnya memasuki 2024 ini.
Akibat teknologi militer tingkat tinggi ini akan sangat sulit diprediksi, sulit diantisipasi kapan, di mana itu akan terjadi. Arsitektur teknologi canggih itu meliputi Kecerdasan buatan (AI) dan pembelajaran mesin (ML). Teknologi informasi (5G, 6G), Teknologi komputasi tingkat lanjut (komputasi kuantum) dan Teknologi penginderaan jauh dan pemantauan (satelit dan drone) akan hadir secara bersamaan. Begitu juga dengan pertarungan siber akan berlangsung antara pendukung Israel dan pendukung Hamas. Saat ini platform media sosial masih dikuasai oleh Israel, namun penggunanya justru dikuasai oleh anti Israel. Siapakah yang akan menang dan mengendalikan penguasaan geopolitik selanjutnya, kita tunggu saja.







Komentar