Beasiswa UPA yang Selalu Disoal

Daerah1058 Dilihat

BEASISWA Universitas Patria Artha (UPA) kerap kali menuai pro kontra. Terlebih, di momen politik seperti saat ini beasiswa UPA dijadikan bahan politik pihak – pihak tertentu. Lalu, bagaimanakah beasiswa UPA bisa hadir untuk anak – anak Kaltara?

Beasiswa UPA yang telah berjalan kurang lebih tiga tahun belakangan ini memang menuai banyak persoalan. Masyarakat Kaltara yang masih awam terkait universitas ini bahkan menelan mentah – mentah hasil politisasi pihak – pihak yang memframing beasiswa UPA seakan tak layak untuk hadir di Kaltara. Padahal, di balik beasiswa tersebut, ada perhatian yang diberikan kepada anak – anak Kaltara yang tujuannya mencetak SDM andal di masa depan.

Bukan tanpa sebab beasiswa UPA hadir begitu saja untuk Kaltara. Jauh sebelum adanya pemerintahan Zainal A Paliwang dan Yansen Tipa Padan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltara periode 2021 – 2024, UPA telah memulai perjalanan beasiswanya di sejumlah wilayah Sulawesi, selama 10 tahun. Di antaranya beasiswa bagi anak – anak di Manado, Gorontalo, Palu, Sulawesi Selatan hingga Sulawesi Tenggara.

Rektor UPA, Bastian Lubis menerangkan pemberian beasiswa kepada anak – anak Kaltara dilakukan semata ingin meningkatkan kemampuan SDM Kaltara di berbagai bidang indsutri dalam daerah. Sebab, kesadaran membangun SDM tersebut diakuinya perlu dilakukan sejak awal agar SDM Kaltara tidak kalah bersaing dengan SDM dari luar Kaltara.

Peningkatan SDM ini, menurutnya sejalan dengan pemikiran Zainal A Paliwang di awal mengemban tugas sebagai Gubernur Kaltara. Sehingga, pencocokan pemikiran dan misi peningkatan SDM tersebut dijalin dengan dilangsungkannya beasiswa UPA, yang sejak 2022 hingga kini beasiswa UPA telah diikuti 755 anak Kaltara yang menempuh pendidikan akademisi di UPA, Makassar.

“Awalnya, saya diminta datang ke Polda Kaltara untuk meningkatkan grade Polda Kaltara dari Kelas B menjadi Kelas A. Pada waktu itu, Kapoldanya Indrajit dan Wakapoldanya Zainal A Paliwang. Singkat cerita, pada 2021 Zainal A Paliwang terpilih menjadi Gubernur Kaltara periode 2021 – 2024. Seminggu setelah dilantik, Zainal A Paliwang bertandang ke UPA bertemu jajaran Rektor UPA dalam hal kerjasama konsultan keuangan,” terang Bastian Lubis yang juga sebagai Auditor Ahli Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan (BPKP).

Sebagai seorang sahabat dan pernah berperan dalam peningkatan grade Polda Kaltara, Bastian Lubis menerima tawaran kerjasama tersebut. Sesampainya di Kaltara, semabari menjalankan tugas – tugasnya sebagai konsultan keuangan, Bastian juga menyempatkan diri berkunjung ke sejumlah wilayah di Kaltara. Terutama di wilayah terdalam di Kaltara. Hasilnya, Bastian mendapatkan masih banyak anak – anak Kaltara yang butuh perhatian pendidikan ke tingkat universitas.

Menurut Bastian, hal yang sama juga menjadi pemikiran Zainal A Paliwang. Bahkan, Bastian mengakui Zainal memiliki trobosan pemikiran yang baik di bidang pendidikan. Pemikiran yang tak dimiliki sosok pemimpin lain di Kaltara. Sebab, Zainal melakukan berbagai upaya yang menurutnya yang tidak biasa. Yakni, peningkatan mutu pendidikan dan SDM Kaltara di tengah – tengah keterbatasan anggaran Pemprov Kaltara, saat itu.

“Saya melihat sendiri anak – anak Kaltara ini gagah dan cantik – cantik, juga mereka punya potensi untuk daerahnya masing-masing. Jadi di awal itu kita sama – sama sepakati memberikan 500 beasiswa (UPA) untuk putra-putri Kaltara,” sebutnya.

Selain karena melihat potensi dan ingin membangun SDM Kaltara, Bastian juga mengakui beasiswa tersebut karena kedekatan dirinya dengan Zainal A Paliwang yang sudah terjalin begitu lama. Namun momen saat memberikan beasiswa, Zainal A Paliwang sudah sebagai Gubernur Kaltara. Sehingga rentan untuk dijadikan bahan politik pihak – pihak di luar maupun di dalam barisan politik Zainal A Paliwang.

“Dari 500 kuota, di awal kita juga ada beberapa tantangan. Akhirnya target kita yang tadi bisa banyak di awal, akhirnya kloter pertama waktu itu yang lolos 176 orang mendapatkan beasiswa UPA. Tahun berikutnya bisa naik lagi 276, sampai terakhir ada diangka 755 orang yang sudah kuliah di UPA. Ada di Fakultas Teknik, Fakultas Ekonomi, Fakultas Kesehatan,” terangnya.

Dikisahkan Bastian, peningkatan SDM dan penidikan untuk bersaing di dunia industri sangat penting dilakukan. Seiring dengan hal itu, Kaltara merupakan salah satu wilayah tujuan Proyek Strategis Nasional (PSN). Maka, dengan hal tersebut Bastian tak ingin Kaltara seperti Morewali yang mana SDM-nya tidak sepenuhnya siap bersaing dengan SDM dari luar di berbagai proyek strategis di sana, sihingga hal tersebut menjadi pembelajaran besar bagi Kaltara agar PSN atau industri hijau lainnya yang akan dibangun di Kaltara dapat dimaksimalkan dengan SDM yang mempuni.

“Morewali tidak mempersiapkan orang -orangnya dalam menyambut investasi yang masuk. Kaltara ini punya ekonomi hijau besar yang dibangun, ada ratusan ribu orang yang bekerja di sana nantinya. Sehingga dalam beasiswa itu untuk anak – anak Kaltara uang pendaftaran, uang pangkal, maupun uang semester satu sampai semester delapan ditanggung yayasan. Itu (biaya) berkisar Rp55 – Rp66 juta selama empat tahun. Tidak ada satu sen pun uang APBD maupun APBN yang digunakan,” paparnya.

Ia juga mendukung bila ada universitas di Kaltara yang mau memberikan beasiswa kepada anak – anak Kaltara. Hal itu, kata dia, juga sesuai dengan aturan Dikti yang mengharuskan kuliah di dalam daerah. Namun begitu, beasiswa yang terjalin sejauh ini murni karena ingin memberikan yang terbaik bagi anak – anak Kaltara ke depannya.

“Beasiswa ini kalau bukan karena kedekatan saya dengan Pak Paliwang ya tidak juga. Jadi bisa dikatakan, anak – anak kita yang saat ini menempuh pendidikan di sana (UPA) karena jasanya Pak Paliwang juga,” tegasnya.

Ia berharap, saat semester enam sudah mendapatkan sertifikasi kompetensi. Sertifikasi tersebut, menurutnya lebih tinggi dari nilai ijazah. Sebab, saat melakukan magang di industri maupun di pemerintahan, sudah sewajibnya direkrut. Hal itu dikarenakan anak – anak Kaltara yang berkuliah di UPA ditujukan sebagai entrepreneur (praktisi), dan bukan sebagai pekerja buruh kasar.

“Kita juga kerjasama dengan 24 universitas di Taiwan. Khususnya teknik mesin, elektro, dan informatika empat semester di UPA dan dilanjutkan empat semester di Taiwan. MoU-nya bagi anak – anak UPA yang bekerja di sana (Taiwan) akan digaji Rp5 juta per bulan sebagai bentuk beasiswa, dan diberikan waktu 4 jam sehari untuk kerja di industri, dan satu jamnya Rp100 ribu. Jadi kalau sudah selesai, ijazahnya dobel, ijazah dari UPA dan ijazah dari universitas di Taiwan. Nanti anak – anak di sana dikasih gaji Rp20 juta sebulan selama dua tahun dari perusahaan tempat mereka bekerja. Nanti setelah dua tahun di sana, dia mau lanjut apa tidak ya terserah dari anaknya lagi,” bebernya.

Terhadap beasiswa UPA yang kerap kali dipolitisasi, ia sangat menyangkan hal tersebut. Bahkan, ia juga menilai bahwa apa yang selama ini berjalan bukan tidak diketahui oleh sejumlah pihak di Kaltara, terutama dari pihak pemerintahan. Bahkan, informasi terakhir yang ia terima beberapa pihak menyalahkan anak – anak Kaltara berkuliah di UPA.

“Saya juga bingung kenapa dilarang (beasiswa) ini. Bahkan ini sudah berjalan tiga tahun, masa mereka tidak tau. Pak Paliwang ini trobosannya luar biasa, sudah sampai ke luar sana. Bahkan juga kalau asrama sudah disediakan, anak – anak ini tinggal uang makannya saja,” sebutnya.

Lebih jauh dilanjutkan Bastian, adapun beasiswa yang diberikan di Kaltara merupakan beasiswa dari anggaran APBD Pemprov Kaltara. Sehingga, adapun bentuk beasiswa UPA yang berjalan selama ini tidak menganggu anggaran mana pun dan kuota mana pun di Kaltara dalam hal kebijakan daerah. Bastian berpendapat, pendidikan merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan dalam menekan angka pengangguran secara nyata dan berkala bagi Kaltara ke depannya.

“Jadi ternyata banyak yang tidak tahu, hingga dipolitisasi. Saya kasihan juga kalau anak – anak yang dapat beasiswa UPA kok dipolitisasi,” ungkapnya.

Beasiswa UPA untuk anak – anak Kaltara akan terus berlanjut. Bastian memastikan bahwa ada 256 daftar tunggu yang akan masuk ke UPA pada 2025. Tes akademik yang dilakukan kepada calon mahasiswa juga tetap berjalan dalam penerimaan beasiswa UPA. Tes akademik akan mengetahui secara rinci bakat dan minat calon mahasiswa di bidangnya masing-masing. Sehingga, dalam menjalankan pendidikan akademisi nantinya, anak yang bersangkutan benar-benar menjiwai ilmu di bidangnya.

“Tes bakat ini penting, kalau anak ini dipaksakan untuk masuk ekonomi ternyata bakatnya ada di kesehatan ya tidak maksimal nantinya. Kita harus pastikan calon – calon mahasiswa ini bakatnya di mana. Kalau IP-nya di bawah tiga ya kita putus beasiswanya, maka dari itu harus ada tes bakat biar sungguh-sungguh,” tuturnya.

Universitas Patria Artha sebelumnya merupakan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Patria Artha berdiri pada tanggal 5 November 1998, sesuai Surat Keputusan Mendikbud Nomor 154/D/0/1998 jenjang Program Strata Satu dengan Jurusan Akuntansi dan Manajemen.

STIE Patria Artha dipercaya oleh pemerintah untuk membuka Program Pascasarjana Magister Manajemen (Strata Dua), sesuai dengan SK Dikti Nomor 201/DIKTI/KEP/1999. Sesuai dengan SK Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi Nomor 006/BAN-PT/Ak-IV/S2/VI/2005, STIE Patria Artha program pascasarjana telah memperoleh akreditasi oleh BAN PT.

Untuk menunjang kegiatan akademik STIE Patria Artha telah mengembangkan lembaga dalam rangka mewujudkan visi dari STIE Patria Artha agar menjadi kampus riset maka sejak awal Lembaga Manajemen STIE Patria Artha (LM STIE PA) dan Pusat Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (P3M), sehingga tidak menjadikan kampus STIE Patria Artha hanya sebagai menara gading saja, tapi lebih berperan dalam membantu program-program pemerintahan. (*/n)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar