Support by SAMUDRA PELAUT TRUST DESA
Dunia sedang bergerak menuju dekade yang lebih keras dan tidak pasti. Persaingan antarnegara kini tidak lagi terjadi di medan perang konvensional, melainkan di ruang digital, pasar global, dan opini publik. Struktur kekuasaan global yang dulu relatif stabil kini bergeser menuju era multipolaritas rapuh, di mana kekuatan lama seperti Amerika Serikat harus berbagi panggung dengan Tiongkok, Rusia, India, dan kekuatan menengah seperti Indonesia. Persaingan ini tidak hanya tentang siapa yang paling kuat, tetapi siapa yang paling mampu mengontrol narasi, teknologi, dan kepercayaan publik.
Rivalitas Global: Tatanan Lama Retak, Dunia Tanpa Pusat
Pertarungan strategis antara Amerika Serikat dan Tiongkok akan mendefinisikan geopolitik dekade depan. Washington berjuang mempertahankan sistem internasional yang dibangun pasca-Perang Dunia II, sementara Beijing berupaya membentuk tatanan baru yang lebih menguntungkan bagi kepentingannya. Bagi Tiongkok, kekuatan bukan lagi sekadar militer, melainkan kemampuan untuk menguasai rantai pasokan, standar teknologi, dan infrastruktur digital dunia.
Lewat Belt and Road Initiative (BRI), Tiongkok memperluas pengaruh ekonomi ke Asia, Afrika, dan Eropa. Investasi besar dalam energi, pelabuhan, dan jaringan telekomunikasi bukan hanya soal bisnis, tetapi strategi jangka panjang untuk menanamkan pengaruh politik. Sementara itu, Amerika Serikat merespons dengan memperkuat Indo-Pacific Strategy, menggandeng sekutu seperti Jepang, Australia, India, dan Filipina dalam upaya membendung ekspansi Beijing.
Di sisi lain, Rusia tetap memainkan peran pengacau global. Setelah invasi ke Ukraina, Kremlin mengubah strategi: dari kekuatan militer besar menjadi kekuatan disruptif. Rusia akan terus menggunakan senjata non-konvensional—seperti perang informasi, siber, dan energi—untuk mengguncang Eropa dan memperluas pengaruh di kawasan Global South.
Dunia dalam Zona Abu-Abu: Perang yang Tidak Dinyatakan
Dekade mendatang akan didominasi oleh konflik di “zona abu-abu” — wilayah di mana perang tidak pernah resmi diumumkan, tetapi juga tidak pernah berhenti. Operasi pengaruh, kampanye disinformasi, dan serangan siber akan menjadi instrumen utama dalam perebutan kekuasaan global. Negara-negara akan beroperasi di bawah ambang batas perang terbuka untuk menghindari sanksi dan pembalasan langsung.
Contohnya, peretasan data dan kebocoran informasi sensitif dapat digunakan untuk mendiskreditkan lawan politik, menimbulkan ketidakpercayaan publik, dan memecah kohesi sosial. Serangan terhadap infrastruktur penting—listrik, keuangan, komunikasi—akan menjadi alat tekanan yang efektif. Dunia akan semakin sulit membedakan antara tindakan kriminal siber, operasi intelijen, dan perang.
AI, Energi, dan Fragmentasi Teknologi Global
Kecerdasan buatan (AI) adalah senjata strategis abad ke-21. Negara yang menguasai AI akan menguasai masa depan ekonomi, keamanan, dan informasi. Namun, AI juga akan menjadi sumber ketidakstabilan baru. Teknologi deepfake dapat menciptakan krisis politik hanya dalam hitungan jam, sementara algoritma dapat digunakan untuk memanipulasi opini publik dengan presisi tinggi.
Selain itu, dunia akan semakin terbelah menjadi blok teknologi yang saling bersaing. AS dan sekutunya akan mempromosikan model techno-democracy, sementara Tiongkok dan Rusia memperkuat konsep digital sovereignty — internet yang tertutup dan dikontrol negara. Fragmentasi digital ini berpotensi menciptakan “tirai besi baru”, bukan dari besi dan beton, tetapi dari firewall dan algoritma.
Energi juga akan menjadi arena kompetisi utama. Transisi menuju energi hijau menciptakan ketergantungan baru pada logam kritis seperti nikel, kobalt, dan lithium. Negara yang memiliki sumber daya ini—termasuk Indonesia—akan menjadi pemain penting dalam geopolitik energi masa depan.
Indonesia: Kekuatan Penyeimbang di Jantung Indo-Pasifik
Posisi Indonesia dalam dekade mendatang akan semakin strategis. Sebagai negara demokrasi besar dan kekuatan ekonomi menengah di tengah rivalitas besar, Indonesia akan menjadi penyeimbang alami di kawasan Indo-Pasifik. Tantangannya adalah menjaga kemandirian kebijakan tanpa terseret ke orbit kekuatan besar mana pun.
Secara ekonomi, hubungan dengan Tiongkok sulit dihindari. Namun, ketegangan di Laut Natuna Utara dan meningkatnya kehadiran militer Tiongkok di wilayah itu menuntut Indonesia memperkuat kemampuan maritim dan diplomasi pertahanannya. Di saat yang sama, kerja sama dengan Amerika Serikat, Jepang, dan Australia dalam bidang keamanan siber, teknologi, dan pertahanan akan menjadi kunci keseimbangan strategis.
Di level kawasan, Indonesia harus terus menjaga sentralitas ASEAN agar tidak terpecah oleh tekanan eksternal. Sebagai negara dengan kapasitas diplomasi dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara, Jakarta memiliki peluang untuk memimpin transformasi ASEAN menjadi blok yang lebih adaptif dan berdaulat di tengah rivalitas besar.
Namun, tantangan internal juga besar: disinformasi, serangan siber, dan polarisasi politik dalam negeri dapat melemahkan ketahanan nasional. Pemerintah perlu berinvestasi dalam literasi digital, keamanan siber, dan tata kelola informasi publik agar tidak menjadi korban perang pengaruh global.
Strategi Adaptif untuk Indonesia versi Global Strategic Fondation
Dekade 2025–2035 akan ditandai oleh ketidakpastian permanen. Tidak ada lagi pemenang tunggal dalam tatanan global. Aliansi menjadi cair, dan kekuatan muncul dalam bentuk baru—data, kepercayaan, dan kendali teknologi. Dalam lanskap seperti ini, kemampuan Indonesia untuk bertahan dan memimpin akan sangat ditentukan oleh tiga faktor utama:
- Kemandirian Strategis — Menjaga kebijakan luar negeri bebas-aktif sambil memperkuat kapasitas nasional di bidang energi, pangan, dan teknologi.
- Ketahanan Siber dan Informasi — Melindungi masyarakat dari manipulasi digital dan ancaman siber dengan membangun ekosistem pertahanan digital nasional.
- Diplomasi Cerdas dan Inklusif — Menggabungkan peran sebagai pemimpin ASEAN dengan posisi strategis di G20, BRICS dan forum Indo-Pasifik untuk menjadi “penengah” dalam rivalitas global.
Indonesia di Garis Depan Dunia Baru
Dunia dekade depan akan penuh risiko, tetapi juga peluang. Saat negara-negara besar terjebak dalam rivalitas total, kekuatan menengah seperti Indonesia justru memiliki ruang untuk bermanuver. Jika mampu membaca perubahan arah angin global, memperkuat ketahanan domestik, dan menjaga keseimbangan dalam hubungan luar negeri, Indonesia dapat tampil bukan sekadar sebagai penonton, tetapi sebagai aktor kunci dalam membentuk stabilitas dan arah geopolitik Asia.








Komentar