Gencatan Senjata Palsu dan Tanggung Jawab atas Kekacauan Global

Catatan Diplomasi Politik Pelaut Nuswantara

Support by SAMUDRA PELAUT TRUST DESA

Fakta bahwa Israel melancarkan serangan terhadap Lebanon hanya sehari setelah Amerika Serikat mengumumkan gencatan senjata bukanlah sekadar kebetulan taktis. Ini adalah bukti terang bahwa arsitektur diplomasi global saat ini telah kehilangan fungsi dasarnya: menjadi penjamin kepastian. Ketika satu pihak dalam hal ini Israel dengan tegas mengabaikan deklarasi yang dikeluarkan oleh mediator utama dunia, maka yang runtuh bukan hanya gencatan senjata, melainkan kredibilitas seluruh sistem tata kelola global. Maka, tidaklah berlebihan untuk menegaskan bahwa Israel harus bertanggung jawab terhadap kekacauan dunia saat ini, bukan sebagai kambing hitam, tetapi sebagai aktor yang secara sadar memilih untuk mengoperasikan logika perang di atas logika hukum dan diplomasi.

Serangan Israel terhadap Lebanon sehari setelah pengumuman gencatan senjata oleh pemerintahan Biden—yang kemudian diperkuat oleh sinyal dari kubu Trump dan Netanyahu bahwa Lebanon tidak masuk dalam kerangka kesepakatan—mengungkap satu hal yang selama ini coba disembunyikan oleh retorika perdamaian: tidak ada satu pun pusat kendali yang benar-benar berfungsi. Diplomasi multipolar yang diidam-idamkan sebagai antitesis dari hegemoni ternyata menjelma menjadi fragmentasi anarkis. Setiap aktor membawa versi realitasnya sendiri, dan yang paling kuat secara militer lah yang memaksakan versinya di lapangan. Dalam kondisi seperti ini, gencatan senjata bukanlah instrumen de-eskalasi, melainkan alat untuk menciptakan ilusi memberi waktu bagi satu pihak untuk mengatur ulang tembakan berikutnya.

Lebih dari itu, tindakan Israel ini mengonfirmasi bahwa konflik di Timur Tengah telah melampaui logika pembalasan lokal. Ini adalah perang sistemik yang dampaknya merambat ke Samudra Hindia, mengganggu jalur energi di Selat Hormuz, dan memicu gelombang tekanan pada rantai pasok global. Ketika jalur energi terguncang, inflasi global naik, ekonomi domestik negara-negara seperti Indonesia tertekan, dan stabilitas politik banyak negeri ikut rapuh. Dengan kata lain, serangan Israel ke Lebanon bukan hanya kejahatan terhadap kemanusiaan di kawasan, tetapi juga serangan terhadap ketahanan ekonomi dunia. Maka, tanggung jawab Israel bukanlah persoalan moral semata—melainkan persoalan sistemik: mereka telah menjadi sumber dislokasi global yang terstruktur.

Yang paling berbahaya dari semua ini adalah bahwa dunia saat ini tidak sedang dalam kondisi perang terbuka, tetapi dalam kondisi ilusi kendali. Setiap pihak—AS, Iran, Israel, Pakistan sebagai mediator gagal, bahkan PBB—merasa sedang mengendalikan situasi. Padahal, tidak ada satu pun yang benar-benar memegang kendali penuh. Serangan Israel ke Lebanon adalah bukti bahwa gencatan senjata tanpa konsensus dan tanpa mekanisme penegakan hanyalah jeda semu. Dan di dalam jeda semu itulah eskalasi justru menjadi lebih mungkin, karena ekspektasi palsu tentang perdamaian membuat masyarakat global lengah, sementara senjata tetap berbicara.

Kesimpulannya tegas, bahwa kekacauan dunia saat ini tidak terjadi begitu saja. Ia diproduksi secara sadar oleh aktor-aktor yang memilih perang sebagai kelanjutan diplomasi dengan cara lain dan Israel, dengan serangannya yang menabrak deklarasi gencatan senjata, telah menunjukkan dirinya sebagai agen utama disintegrasi tata dunia. Bagi Indonesia, ini bukan saatnya untuk bersikap netral dalam arti pasif. Ini adalah momen untuk mempersiapkan ketahanan energi, jalur maritim, dan stabilitas ekonomi bukan untuk skenario “jika konflik pecah”, tetapi untuk kenyataan bahwa sistem global sedang dikendalikan oleh penjahat perang atas nama perdamaian. Siapa yang tidak bersiap akan menjadi korban berikutnya—bukan karena terkena peluru, tetapi karena kehilangan kendali atas narasi, logistik, dan persepsinya sendiri.

Adv Banner

Komentar

Berita Terbaru