Hadiri Peresmian DXI 2026, Menko AHY dan Wamen Pariwisata Dorong Penguatan Wisata Alam dan Petualangan

Berita, Nasional8 Dilihat

Jakarta, Indomaritim.com – Peresmian DEEP and EXTREME Indonesia 2026 (DXI 2026) menjadi momentum penting untuk memperkuat sektor pariwisata nasional, khususnya wisata alam dan petualangan.

Dalam acara tersebut, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) dan Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa sama-sama menekankan pentingnya sinergi, infrastruktur, dan pengembangan destinasi baru.

AHY mengapresiasi capaian Kementerian Pariwisata serta menegaskan bahwa sektor pariwisata merupakan salah satu pilar strategis pembangunan nasional. Ia menyebut Indonesia memiliki keunggulan sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau dan garis pantai mencapai lebih dari 108.000 kilometer.

“Untuk memajukan pariwisata, kita membutuhkan dukungan infrastruktur dan konektivitas antarwilayah, baik fisik maupun digital,” ujar AHY dalam sambutannya di acara Opening Ceremony DEEP and EXTREME Indonesia (DXI) 2026, di Hall B Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (23/4/2026).

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas kementerian, termasuk dengan Kementerian Transmigrasi, mengingat banyak kawasan transmigrasi yang memiliki potensi besar di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Pada acara tersebut juga AHY turut mendorong pengembangan “Bali-Bali baru” agar Indonesia tidak hanya bergantung pada Bali sebagai ikon wisata. Sejumlah destinasi unggulan seperti Bunaken, Wakatobi, Labuan Bajo, dan Raja Ampat dinilai memiliki potensi kelas dunia yang perlu terus dikembangkan.

Selain itu, AHY menilai kegiatan seperti DXI mampu memperluas minat masyarakat terhadap wisata outdoor, termasuk diving dan aktivitas ekstrem lainnya. Ia menegaskan bahwa promosi pariwisata juga berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi lokal, terutama melalui penguatan 17 subsektor ekonomi kreatif.

Sementara itu, Wamen Pariwisata Ni Luh Puspa menyoroti tren wisata global yang semakin mengarah pada wisata berbasis pengalaman (experience-based tourism), terutama pasca pandemi COVID-19.

“Sebanyak 75 persen wisatawan datang ke Indonesia untuk menikmati wisata alam, dan 65 persen di antaranya memilih wisata bahari,” ungkapnya.

Ia menjelaskan bahwa wisata bahari memberikan kontribusi signifikan, yakni sekitar 32-42 persen terhadap aktivitas ekonomi pariwisata nasional dan menyumbang hingga 2 persen terhadap PDB. Potensi ini juga didukung oleh lebih dari 2.000 desa pesisir yang mengembangkan wisata sebagai penggerak ekonomi lokal.

Niluh juga menekankan pentingnya aspek keselamatan dalam pengembangan wisata alam. Kementerian Pariwisata, kata dia, telah menjalankan program pelatihan dan sertifikasi bagi pelaku industri sejak 2025 hingga 2026, dengan fokus pada wisata gunung dan bahari.

Selain itu, ia melihat tren wisata minat khusus seperti diving, panjat tebing, dan arung jeram semakin diminati. Indonesia dinilai memiliki banyak lokasi potensial untuk aktivitas tersebut, seperti kawasan Citatah di Jawa Barat dan berbagai destinasi alam lainnya di seluruh nusantara.

Keduanya sepakat bahwa pengembangan pariwisata harus dilakukan secara terintegrasi, mulai dari pembangunan infrastruktur, peningkatan kualitas SDM, hingga penciptaan paket wisata yang variatif. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan lama tinggal wisatawan serta memperbesar dampak ekonomi bagi masyarakat.

Peresmian DXI 2026 yang telah memasuki tahun ke-18 ini diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung, tidak hanya pecinta olahraga ekstrem, tetapi juga masyarakat umum.

Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, industri, dan komunitas, Indonesia optimistis dapat memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata alam terbaik di dunia. (Hes)

Adv Banner

Komentar