Diselidiki, Penyebab Hiu Paus Sering Terdampar di Pesisir Cilacap

Dua hiu dalam waktu sepekan terdampar dan mati di sana

Daerah, Info Maritim548 Dilihat

Cilacap, indomaritim.com – Tim gabungan dari berbagai instansi menyelidiki penyebab dua Hiu Paus (Rhincodon typus) terdampar di pesisir Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, dalam rentang waktu sepekan pada Mei 2026.

Seperti dikutip dari Antara, Senin, petugas Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak Wilayah Kerja Semarang Darmawan mengatakan dugaan sementara keterdamparan dua Hiu Paus tersebut mengarah pada intoksikasi atau keracunan, namun masih menunggu hasil pengujian laboratorium.

“Kalau ditarik ke belakang, kejadian keterdamparan Hiu Paus di Kabupaten Cilacap ini termasuk cukup sering. Bahkan keterdamparan beruntun seperti ini juga pernah terjadi tahun 2022, tepatnya pada 5, 12, dan 31 Oktober, kemudian disusul lagi pada 5 November 2022,” katanya.

Terkait dengan kejadian beruntun pada bulan Mei 2026, dia mengatakan seekor Hiu Paus sepanjang sekitar 8 meter ditemukan terdampar di Pantai Banjarsari, Kecamatan Nusawungu, pada 23 Mei 2026 sekitar pukul 05.30 WIB.

Sebelumnya Hiu Paus berukuran sekitar empat meter juga dilaporkan terdampar di wilayah yang sama pada 17 Mei 2026.

“Kedua lokasi keterdamparan berada pada satu garis pantai dengan jarak sekitar enam kilometer,” katanya.

Menurut dia, penyebab hiu paus terdampar dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi cuaca, kesehatan satwa, hingga interaksi dengan benda di permukaan laut seperti baling-baling kapal yang dapat menyebabkan luka pada tubuh mamalia tersebut.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan pemeriksaan lebih lanjut melalui nekropsi untuk mengetahui penyebab pasti kematian satwa tersebut.

Penanganan bangkai Hiu Paus tersebut melibatkan Jejaring Penanganan Biota Laut Terdampar Kabupaten Cilacap yang terdiri atas Dinas Perikanan Cilacap, Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Cilacap, Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak Wilayah Kerja Semarang, TNI AL, Polri, dokter hewan, peneliti Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, relawan, dan masyarakat setempat.

Mengingat ukuran satwa yang besar, kata dia, proses evakuasi memerlukan bantuan alat berat berupa ekskavator.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Indarto mengatakan penanganan biota laut berukuran besar membutuhkan koordinasi dan dukungan lintas instansi agar dapat berlangsung cepat, tepat, dan aman.

Tim akhirnya berhasil memindahkan bangkai Hiu Paus ke lokasi yang aman setelah hampir dua jam proses evakuasi. Selanjutnya dokter hewan dan tim konservasi melakukan nekropsi untuk mengungkap penyebab kematian satwa tersebut.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Hiu Paus berjenis kelamin jantan dengan panjang tubuh mencapai 8,36 meter dan diameter sekitar 3,71 meter. Tim juga menemukan lima luka sayatan yang diduga akibat baling-baling kapal serta benda asing berupa plastik di dalam lambung Hiu Paus.

Selain itu saluran pencernaan Hiu Paus diketahui berisi ikan teri berukuran kecil yang belum tercerna. (RR)

 

Temuan tersebut mendorong akademisi Unsoed melakukan kajian lanjutan terkait kondisi oseanografi dan kualitas perairan di wilayah pesisir Cilacap.

Marine Megafauna Specialist Yayasan Sealife Indonesia Dwi Suprapti mengatakan hasil nekropsi dan observasi lapangan mengarah pada dugaan intoksikasi akut sebagai penyebab kematian Hiu Paus tersebut.

“Untuk memastikan penyebabnya, sampel organ, isi lambung, dan air laut telah dikirim ke laboratorium guna menjalani pengujian histopatologi, cemaran kimia, logam berat, analisis genetik, serta kajian kualitas perairan dan oseanografi,” katanya.

Hiu paus merupakan spesies ikan terbesar di dunia yang dilindungi penuh di Indonesia sejak tahun 2013. Di tingkat internasional, satwa tersebut juga masuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) karena populasinya terancam punah.

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar