Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Tidak banyak yang menyadari bahwa Gen Z atau penduduk bangsa ini yang terlahir antara tahun 1997 dan 2012 merupakan kelompok generasi terbesar di Indonesia saat ini. Dengan 27,94% dari total populasi atau 74,93 juta orang, menjadikan mereka telah resmi menggeser generasi milenial yang lahir antara 1985 dan 1996. Seiring dengan penetapan nomer partai politik yang akan menjadi kontestan pada Pileg dan Pilpres di februari 2024 nanti, politisi mulai tersadar dan membuka mata pada Generasi Z ini.
Tentunya dengan tidak melupakan konsentrasi pada generasi milenial yang merupakan generasi kedua terbesar di Indonesia dengan 25,87% dari total populasi atau 69,38 juta orang. Sebagai kelompok yang rentan, generasi milenial ini lebih sadar akan haknya sebagai pekerja dan sebagai warga negara yang pada umumnya memposisikan politik lebih sebagai fenomena ketimbang menjadikannya sebagai alat untuk eksistensi diri. Konsentrasi generasi milenial terlihat jelas kepada setiap peluang usaha dan bisnis yang bisa menghasilkan uang.
Beberapa partai politik sudah mulai mendorong banyak program yang tentunya banyak diminati oleh kaum milenial. Terutama dalam konteks literasi keuangan, yang terbukti mampu memberikan dorongan nyata untuk membantu generasi milenial mandiri menghasilkan atau menambah pendapatan keluarga. Bahkan fenomena baru munculnya start Up bisnis yang dikelola mandiri oleh generasi milenial telah mengubah wajah industrial kita hari ini. Namun siapa sangka ternyata fenomena geliat milenial ini juga telah tergeser oleh hegemoni kekuatan baru yang kita kenal dengan nama Gen Z.
Kekuatan komunal baru itu bernama Gen Z yang sangat lekat dengan dunia Metaverse. Literasi digital tentu harus kita dahulukan disini. Karena aktifitas mereka justru lebih dominan hadir secara Online. Kalau generasi milenial memulai aktifitas online nya dengan zoom meeting kantor atau Gmeet komunitas, maka gen Z menghabiskan waktu online nya dengan menjadi gamers dan content creator. Jika tempat kerja harus mengakomodasi realitas dalam konteks pekerjaan bagi kaum milenial, maka bagi gen Z semua ruang adalah `kantor` nya karena dunia bisa diakses lewat gadgetnya sendiri.
Hal inilah yang menyebabkan mengapa saat ini Indonesia merupakan pasar industri game terbesar di Asia Tenggara dan menduduki peringkat ke-17 dunia. Tercatat, ada 52 juta penduduk Indonesia yang merupakan gamers. Dan mereka semua adalah ceruk pasar yang akan digarap serius oleh partai politik dengan semua instrumennya. Sebuah tantangan yang tentu tidak akan mudah bagi para politisi. Mengingat hasil riset politik terakhir menggambarkan 71% dari Gen Z yang cenderung bersikap netral terhadap pilihan politiknya. Jadi siapa yang akan mampu menjawab kebutuhan gen Z dan Milenial dalam pemilihan umum 2024 nanti, kita tunggu saja.







Komentar