Pandemi Covid-19 Hantam Industri Maritim Dunia

Jasa Maritim828 Dilihat

Jakarta, indomaritim.id – Covid-19 yang secara resmi dinyatakan sebagai pandemi global oleh World Health Organization (WHO) berdampak besar bagi industri maritim diseluruh dunia. Berbagai kegiatan operasional pelabuhan tersibuk dan terpenting di dunia dibatasi guna menekan penyebaran Covid-19 sehingga penurunan trafik logistik pun tak bisa dihindarkan.

Amerika Serikat dan Tiongkok, menjadi negara yang paling terdampak dari penghentian operasional pelabuhan. Pelabuhan Long Beach dan Los Angeles misalnya, sebagai pelabuhan kembar di pantai barat AS adalah pelabuhan yang paling terkena dampak virus corona di wilayah Amerika Utara.

Keduanya adalah dua pelabuhan tersibuk di AS dan memiliki peran yang sangat penting dalam perdagangan AS dengan Tiongkok. Pelabuhan Los Angeles dan Long Beach mengalami penurunan trafik year-on-year (YoY) pada bulan Januari 2020 – masing-masing sebesar 5,4 persen dan 4,6 persen. Trafik terus mengalami penurunan pada Februari 2020, di Los Angeles sebesar 22,9 persen dan Long Beach 9,8 persen.

Baca Juga: Tahun 2023, Arus Peti Kemas Dunia Mendekati 1 Miliar TEUs

Direktur eksekutif Port of Los Angeles, Gene Seroka saat diwawancarai oleh CNBC pada bulan Februari lalu, menilai bahwa perlambatan ekonomi akan lebih buruk dari yang disebabkan oleh virus SARS pada 2002-2003

Seroka juga memperkirakan, penurunan YoY sebanyak 25 persen pada bulan Februari dan 15 persen untuk kuartal pertama 2020. Ia memperkirakan akan terjadi penurunan pada Maret karena pemulihan industri di Tiongkok tetap lambat. Namun, Gene Seroka optimis bahwa Pelabuhan Long Beach akan mengalami peningkatan trafik logistik dalam 12 bulan ke depan.

Sebagai awal dari pendemi, Tiongkok pun bisa terputus dari ekonomi global. Data menunjukkan, perdagangan luar negeri Tiongkok turun 11 persen YoY dalam dua bulan pertama 2020.

Neraca perdagangan Tiongkok dengan Amerika Serikat turun 19,6 persen. Sementara dengan Jepang dan Uni Eropa menurun masing-masing 15,3 persen dan 14,2 persen. Ini merupakan tren kinerja ekonomi terburuk Tiongkok sejak 2009.

Di Indonesia, PT Pelabuhan Indonesia II (Persero) atau IPC yang mengelola dua belas cabang pelabuhan yang tersebar di wilayah bagian barat Indonesia, yakni Pelabuhan Tanjung Priok, Sunda Kelapa, Palembang, Pontianak, Teluk Bayur, Banten, Bengkulu, Panjang, Cirebon, Jambi, Pangkal Balam dan Tanjung Pandan juga mengalami penurunan.

Aarus peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara juga mengalami penurunan sebesar 4,2 persen pada kuartal pertama tahun ini. Selama Januari – Maret 2020, jumlah peti kemas yang masuk ke Pelabuhan Tanjung Priok mencapai 1,569 ribu TEUs.

Jumlah ini menunjukkan adanya penurunan 69 ribu TEUs dari 1,638 TEUs dibandingkan periode yang sama tahun kemarin.

“Selama wabah COVID- 19, pengiriman barang ekspor dan impor ke Tiongkok mengalami gangguan. Dan Tiongkok, merupakan kontributor utama arus peti kemas internasional di Pelabuhan Tanjung Priok,” kata Direktur Utama PT Pelabuhan Indoneia II (Persero), Arif Suhartono.

Namun, PT Pelabuhan Indoneia II (Persero) optimis industri maritim di Indonesia akan segera membail menyusul pengendalian pendemi Covid-19.

Reporter: Mulyono Sri Hutomo
Editor: 
Rajab Ritonga

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar