Uraian Khas: Kopi, Anggur Para Sufi

Kolom1051 Dilihat

Semarang. indomaritim.com – Persenyawaan sufi dengan kopi ini setidaknya diawali di sekitaran abad 12-15. Tetapi,tidak ada sejarawan yang berhasil menemukan angka tahunnya secara persis. Ini sangat mungkin terjadi, karena berbeda dengan beberapa jenis tanaman yang telah ditemukan sebelumnya.

Dalam studi pustaka misalnya, penulis menemukan bahwa gandum dan zaitun adalah jenis makanan paling tua yang ditemukan manusia. Diperkirakan pada 8500 Sebelum Masehi (SM). Sedangkan di China, juwawut, dan padi ditemukan pada 7500 SM. Mungkin karena sepanjang keberadaannya di bumi mengkonsumsi makanan yang sama maka menurut Kazuo Murakami, ahli biologi terapan dan juga Profesor Kehormatan di UniversitasTsukuba Jepang, antara genom padi dan manusia memiliki 40 persen kesamaan. Sedangkan dengan simpanse hanya 3,9 persen.

Pandangan Prof Kazuo itu menegaskan bahwa kehidupan manusia dan alam saling terkait.
Pandangan Kazuo ini tak jauh berbeda dengan apa yang dikatakan Prof Takeshi Yoro, dunia adalah diri kita. Perjumpaan manusia dengan beras, zaitun, ataupun gandum pada ribuan tahun yang lalu, juga persis sama perjumpaan manusia Ethiopia dengan kopi yang diperkirakan terjadi di abad 10-11. Atau perjumpaan kopi dengan orang Jawa dan Sumatra di sekitaran tahun 1800an.

Membutuhkan waktu ratusan tahun untuk bisa bertemu dengan secangkir kopi.
Ahli geografi Mark Blunder, ahli genetika Daniel Zohary, dan juga ahli botani Maria Hopf tak bisa menggambarkan secara persis sejak tahun berapa domestika (budidaya) kopi diberlangsungkan di kawasan Bulan Sabit Tersubur atau kawasan Asia Barat Daya. Bukti-bukti arkeologis juga memaparkan domestikasi hewan seperti domba, kambing (8500 SM), sorgum, dan padi Afrika (5000 SM), perjumpaan bangsa Mesir dengan kucing yang terjadi pada 6000 SM. Tak mengherankan banyaknya bukti arkeologis berupa gambar atau patung kucing di makam-makam Firaun.

Peminum Kopi Pertama

Sedangkan perjumpaan kopi dengan para sufi dari tarekat Syadziliyyah terjadi di sekitar abad 12-15 atau di masa kejayaan Dinasti Mamluk. Sebuah dinasti, yang menurut sejarawan, didirikan para budak berkulit hitam. Peminum kopi (qahwa) pertama yang diketahui adalah Muslim Sufi Yaman , yang menggunakannya untuk tetap terjaga selama dzikir. Berjaga sepanjang malam dihabiskan dengan menyebut nama Tuhan secara ritmis. Kopi adalah kawan dalam berkhalwat.

Menurut kronik sejarawan abad ke-16, Abd Al-Qadir Al-Jaziri, para sufi minum kopi “setiap Senin dan Jumat malam, menaruhnya di bejana besar yang terbuat dari tanah liat merah. Pemimpin mereka menyendoknya dengan gayung kecil dan memberikannya kepada mereka untuk diminum, memberikannya ke kanan, sementara mereka melafalkan salah satu formula yang biasa mereka gunakan.

Beberapa teks yang berasal dari periode itu menyertakan banyak legenda tentang dugaan asal usul kopi yang melibatkan malaikat Jibril. Salah satu cerita rakyat mengklaim bahwa malaikat agung merekomendasikan kopi sebagai obat untuk wabah yang menghancurkan desa Yaman — yang sangat masuk akal.

Bagaimanapun, jelas Al-Jaziri memiliki pandangan yang agak positif tentang minuman yang sekarang ada di mana-mana. “Di mana kopi disajikan, ada keanggunan dan kemegahan, persahabatan dan kebahagiaan,” tulis sejarawan itu . Terapi banyak yang menganggap kopi seperti juga minuman sederhana, tetapi tak sedikit yang menganggapnya sebagai minum setan. Tak jauh-jauh dari alkohol yang dilarang Al Quran.

Bertolak belakang anggapan minuman setan, beberapa ulama kharismatik di Jawa Tengah juga minum kopi. Mursyid saya di Jawa Timur, yang juga penganut tarekat Syadziliyyah minum kopi. Dan, cukup banyak ulama besar di Indonesia penganut tarekat ini, seperti di Sulawesi Tenggara dan di Jawa Tengah seperti almarhum KH Muhaiminan (Parakan, Temangung), dan KH Ahmad Abdul Haq atau dikenal sebagai Mbah Mad Watucongol. Juga ulama kharismatik dari Pekalongan KH Habib Lutfi bin Yahya.

Syech Pelindung Tanaman Kopi

Sebagian besar peminum kopi modern mungkin tidak menyadari warisan kopi dalam tarekat Sufi di Arab Selatan itu. Anggota tarekat Syadziliyya disebutkan telah menyebarkan minuman kopi ke seluruh dunia Islam antara abad ke-12 dan ke-15 Masehi. Seorang Syech Syadziliyya diperkenalkan dengan minum kopi di Ethiopia, sebagai pendamping makan roti. Ada kemungkinan, meskipun tidak pasti, bahwa Sufi ini adalah Abu’l Hasan ‘Ali ibn Umar, yang pernah tinggal di istana Sadaddin II, seorang sultan dari Ethiopia Selatan. ‘Ali ibn Umar kemudian kembali ke Yaman dengan pengetahuan bahwa buah beri tidak hanya dapat dimakan, tetapi juga meningkatkan kewaspadaan.

Sampai hari ini syech dianggap sebagai sang pelindung para penanam kopi, pemilik kedai kopi, dan peminum kopi, dan di Aljazair kopi terkadang disebut syadziliyya untuk menghormatinya. Maka, tidak mengherankan jika kopi secara eksklusif dikaitkan dengan Islam di Eropa Kristen. Setidaknya, sampai Paus Clement VIII memutuskan untuk mencobanya.

(Hendro Basuki, Gunungpati-Semarang)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar