Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Enam bulan sudah terjadi genosida di Palestina. Dan tercatat sejak tanggal 6 Mei seluruh warga diharuskan mengungsi karena “The Rumbling at Rafah”. Operasi Israel di Rafah dirancang untuk menekan Hamas dalam perundingan gencatan senjata yang sedang berlangsung. Namun jika perundingan tersebut gagal, militer Israel akan meningkatkan pertempuran untuk merebut seluruh wilayah tersebut, yang akan merusak hubungan diplomatik Israel di PBB dan memicu perpecahan di dalam negeri Israel.
Pada tanggal 7 Mei, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memulai operasi darat terbatas ke bagian timur kota Rafah paling selatan di Gaza, menyusul serangkaian serangan terhadap posisi Hamas di kota tersebut pada hari yang sama. Sepanjang hari, Israel mengeluarkan seruan kepada warga Palestina untuk segera mengevakuasi bagian timur kota tersebut, mengisyaratkan serangan yang akan segera terjadi. Rafah sisi Palestina jatuh ke tangan Israel, Selasa (07/5). Jalur masuk bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza saat itu juga berhenti total. Lalu lintas orang keluar-masuk Jalur Gaza pun ditutup. Israel ingin pastikan Rafah terkurung, untuk tekan Hamas bebaskan sandera tanpa syarat, sekaligus kesankan bahwa Israel telah menang.
Pasukan Israel juga masuki zona penyangga Philadephia, daerah kosong di sepanjang perbatasan Gaza-Mesir. Israel selama ini klaim zona tersebut sebagai tempat penyelundupan senjata dari Mesir ke Gaza. Mesir kecam upaya Israel untuk kuasai zona itu namun tidak ada tindakan berarti yang dilakukan Mesir. Sedikitnya 1,5 juta jiwa warga Jalur Gaza kini menumpuk di Rafah. Dengan ditutupnya akses keluar dan rumah sakit di Rafah dilarang beroperasi oleh Israel, nyawa para penduduk terancam. Warga tidak akan mendapatkan bantuan dan para pasien yang harusnya dirawat kini terabaikan di luar rumah sakit.
Meski Hamas telah sepakat untuk lakukan gencatan senjata, namun Israel ternyata menolak usulan gencatan senjata yang dimotori oleh Qatar, Mesir dan AS. Delegasi perundingan pun tinggalkan Mesir tanpa ada kesepakatan gencatan senjata pada Kamis (09/5) waktu setempat. Tidak ada informasi kapan perundingan gencatan senjata akan berlanjut. Dalam wawancara dengan media AS, Netanyahu tegaskan rencana Israel untuk kuasai Rafah. Israel klaim telah hancurkan 20 batalion tempur Hamas, dengan 4 batalion yang tersisa berada di Rafah.
Akibat serangan Israel ke Rafah, Biden putuskan untuk hentikan sementara pengiriman senjata ke Israel. Menurut pengamat, sikap Biden ini merupakan salah satu tanda pudarnya dukungan pada serangan Israel ke Rafah. Menghadapi sikap AS ini, Israel tetap berkeras lanjutkan serangan ke Rafah. Netanyahu sampaikan bahwa Israel saat ini telah miliki cukup persenjataan untuk kuasai Rafah. Netanyahu juga sampaikan Israel siap “berdiri sendiri” jika sekutunya tinggalkan Israel.
Lama tertunda, kapal berisi bahan bantuan untuk Gaza tinggalkan Cyprus, menuju ke pelabuhan militer yang dibangun AS di lepas pantai Gaza (Kamis, 09/5). Pembangunan pelabuhan di lepas pantai Gaza ini dikatakan untuk permudah masuknya bantuan ke Gaza. Namun, mengingat kendala bantuan untuk Gaza adalah izin dari Israel, banyak pihak skeptis dengan rencana pemberian bantuan lewat laut ini. Protes mahasiswa pro-Palestina di kampus-kampus berlanjut Meski mendapat tentangan dari pihak kampus, protes mahasiswa pro-Palestina di kampus-kampus AS terus berlanjut. Mahasiswa di berbagai negara pun ikut lakukan protes untuk tekan kampus dan pemerintah mereka putuskan hubungan dengan Israel. Salah satu kampus di AS yang kabulkan tuntutan mahasiswa untuk putus hubungan dengan Israel adalah Union Seminary di AS.








Komentar