Strategi Dominasi dalam Konflik Geopolitik Dunia

Catatan Diplomasi Politik Pelaut Nuswantara

Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM  l  Direktur Eksekutif TRUST  l Presiden SPI  l  Volunteer INMETA

Media internasional saat ini dipenuhi berita tentang pemilihan pemimpin negara, termasuk di Amerika Serikat. Namun, krisis keamanan geopolitik yang meningkat, terutama setelah insiden di Iran beberapa hari lalu, menarik perhatian besar dari para pemimpin dunia. Seorang pemimpin negara Palestina tewas di Iran dalam rangkaian penobatan presiden baru Iran setelah presiden sebelumnya tewas dalam kecelakaan pesawat. Banyak yang melihat ini sebagai awal terbentuknya aliansi anti-Amerika, mengingat Amerika Serikat terus mendukung Israel meskipun mendapat kecaman dari berbagai negara.

Amerika Serikat, sebagai pusat kekuatan negara maju di Eropa, jelas menggunakan strategi geopolitik klasik yang dipelopori oleh Napoleon dan Antoine-Henri Jomini. Kitab strategi Von Clausewitz’ yang diwarisi dari Fredric the Great dan Napoleon, terus menjadi panduan dalam menciptakan dan mengelola perang sebagai alat dominasi politik. Karya klasik ini menekankan bahwa menyerang adalah bentuk pertahanan utama yang sangat efektif dalam konteks dominasi geopolitik.

Di kota Gaza Palestina, setelah bertahun-tahun menerapkan strategi isolasi ekonomi yang gagal menumbangkan kekuatan politik utama, Israel dan sekutunya kini beralih ke strategi militer dan logistik yang bertujuan untuk mereduksi populasi secara sistemik. Dalam konteks ini, dua pilihan muncul: menyerang terlebih dahulu atau tidak terlibat sama sekali. Sebagai fenomena munculnya sosok Ismail Haniya yang selama ini jarang terekspos media, namun pemakamannya di Doha dihantarkan oleh ratusan ribu bahkan para pemimpin dunia termasuk pak JK dari Indonesia.

Strategi dominan dalam situasi ini adalah menyerang terlebih dahulu untuk memastikan kelangsungan hidup, seperti yang dilakukan Joker dalam film “The Dark Knight”. Namun, keseimbangan Nash menunjukkan bahwa pilihan terbaik kedua adalah tidak menekan tombol dan berharap negara lain juga tidak melakukannya. Ini adalah penerapan teori permainan dalam konteks geopolitik, di mana pemimpin negara harus mempertimbangkan tidak hanya kekuatan militer, tetapi juga moralitas, trauma, dan kelangsungan hidup umat manusia.

Mari kita bayangkan dua negara yang sedang berkonflik, Anggap saja negara yang sedang bersama Amerika Serikat dan negara yang tidak bersamanya. Jika pada akhirnya kedua negara ini akan memiliki dukungan kekuatan militer besar dan kemampuan untuk menghancurkan satu sama lain dengan senjata nuklir. Situasinya akan mirip dengan adegan dalam film “The Dark Knight” di mana dua feri yang dipasangi bahan peledak dikendalikan oleh orang-orang di feri yang berlawanan. Dalam konteks ini, kita bisa melihat bagaimana penerapan strategi dominan dan keseimbangan Nash dalam teori permainan dapat diterapkan pada strategi geopolitik perang antar negara.

Negara A dan Negara B masing-masing memiliki tombol yang dapat meledakkan negara lainnya. Jika seorang pemimpin seperti Joker, yang tidak peduli dengan kemanusiaan atau moralitas, memimpin salah satu negara, dia mungkin akan langsung menekan tombol nuklir untuk menghancurkan negara lawan demi kelangsungan hidup negaranya sendiri. Ini adalah strategi dominan: tidak peduli apa yang dilakukan negara lain, pemimpin tersebut akan selalu memilih untuk menyerang terlebih dahulu. Dalam situasi ini, strategi dominan untuk setiap negara adalah menyerang terlebih dahulu untuk memastikan kelangsungan hidup mereka.

Namun, kebanyakan pemimpin negara tidak seperti Joker. Mereka menyadari bahwa menyerang terlebih dahulu mungkin bukan pilihan terbaik karena berbagai alasan, termasuk trauma moral dan kehancuran massal yang tak terbayangkan. Jika kedua negara berasumsi bahwa yang lain mungkin juga memilih untuk tidak menyerang, maka tidak menekan tombol adalah pilihan yang lebih rasional dan manusiawi.

Keseimbangan Nash terjadi ketika kedua negara memilih untuk tidak menekan tombol nuklir, dengan asumsi bahwa negara lainnya juga tidak akan menekan tombol. Dalam situasi ini, tidak ada negara yang bergerak dari posisi saat ini (tidak menyerang), dan ini adalah pilihan terbaik kedua bagi kedua negara. Meskipun mereka memiliki kemampuan untuk menyerang dan mungkin akan selamat, mereka memilih untuk tidak melakukannya karena risiko dan dampak moral yang luar biasa.

Saat ini intensitas komunikasi politik yang terjadi kali ini tergolong tidak lazim dan tidak biasa. Tidak lazim bisa diwakili dari bagaimana cina berhasil menjadi promotor terbentuknya Persatuan politik partai fatah dan partai hamas dipalestina setelah hampir beberapa dekade tidak ada satu negara pun yang mampu melakukannya. Begitu juga kunjungan presiden israel yang sangat mendadak ke presiden Putin setelah sebelumnya kunjungan presiden terpilih Indonesia Prabowo terjadi di Rusia.

Artinya jika genosida di Palestina terus berlanjut, maka posisi geopolitik akan berubah menjadi seperti layaknya perang dunia sesungguhnya. Bagaimana sikap negara-negara didunia menyikapi bisa kita lihat dari teori permainan klasik lainnya yaitu dilema tahanan. Bayangkan dua tahanan ditahan dan diinterogasi secara terpisah. Jika satu tahanan mengkhianati yang lain, dia akan mendapatkan hukuman ringan sementara yang lain akan mendapatkan hukuman berat. Jika keduanya saling mengkhianati, keduanya mendapatkan hukuman sedang. Jika keduanya tetap diam, keduanya mendapatkan hukuman ringan.

Dalam konteks negara yang mendukung Amerika Serikat dan yang tidak, jika salah satu negara menekan tombol nuklir (mengkhianati), negara lain akan dihancurkan (hukuman berat), tetapi negara yang menekan tombol akan selamat (hukuman ringan). Jika keduanya menekan tombol (saling mengkhianati), keduanya akan hancur (hukuman sedang). Jika keduanya tidak menekan tombol (tetap diam), tidak ada yang hancur (hukuman ringan). Pernyataan simpati Kamala Harris di gedung Putih  kepada situasi Gaza Palestina hari ini membuktikan dominasi itu adalah strategis sebelum taktis.

Strategi dominan dalam situasi ini adalah menyerang terlebih dahulu untuk memastikan kelangsungan hidup, seperti yang dilakukan Joker dalam “The Dark Knight”. Namun, keseimbangan Nash menunjukkan bahwa pilihan terbaik kedua adalah tidak menekan tombol dan berharap negara lain juga tidak melakukannya. Ini adalah penerapan teori permainan dalam konteks geopolitik, di mana pemimpin negara harus mempertimbangkan tidak hanya kekuatan militer, tetapi juga moralitas, trauma, dan kelangsungan hidup umat manusia. Dengan mempertimbangkan semua faktor ini, pemimpin negara diharapkan dapat mengambil keputusan yang bijaksana demi kedamaian dan stabilitas global.

 

 

Komentar