Mengapa Seluruh Fasilitas Medis Iran Dihancurkan?

Catatan Diplomasi Politik Pelaut Nuswantara

Internasional, Kolom22 Dilihat
Support by SAMUDRA PELAUT TRUST DESA

Membaca Logika Geostrategis di Balik Perang Kesehatan AS-Israel

Paradoks Rumah Sakit sebagai Medan Perang

Pada pagi hari tanggal 3 April 2026, jet-jet tempur Amerika Serikat dan Israel melesatkan rudal ke jantung kota Teheran, menghantam gedung Pasteur Institute yang telah berdiri selama 105 tahun. Bukan pabrik amunisi yang diserang, bukan pula pusat komando militer, melainkan laboratorium tempat para ilmuwan Iran memproduksi vaksin untuk imunisasi nasional tetanus, hepatitis B, dan campak. Tiga hari sebelumnya, gudang bahan baku obat kanker dan anestesi milik Tofigh Daru Pharmaceutical Company juga luluh lantak, bangunan berlantai lima itu roboh dengan lantai paling atas hancur total. Lalu pada 29 Maret, Delaram Sina Psychiatric Hospital—rumah sakit jiwa yang baru diresmikan—dibom saat sekitar tiga puluh pasien masih berada di dalam. Dalam hitungan minggu, sejak perang diluncurkan pada 28 Februari 2026, WHO telah memverifikasi lebih dari dua puluh serangan terhadap fasilitas kesehatan di Iran, dengan sedikitnya sembilan petugas kesehatan tewas, termasuk seorang dokter spesialis penyakit infeksi dan seorang anggota Palang Merah Iran.

Di mata hukum humaniter internasional, serangan terhadap fasilitas medis adalah kejahatan perang yang dilarang tegas. Namun serangan-serangan ini tidak terjadi secara sporadis atau sebagai “kesalahan taktis”. Ada logika strategis yang dingin dan terencana di baliknya, yang hanya dapat dipahami dengan melihat Iran bukan sekadar sebagai musuh militer, melainkan sebagai proyek ketahanan nasional yang sistem kesehatannya merupakan benteng terakhir mempertahankan kohesi sosial dan legitimasi politik rezim. Penghancuran sistematis infrastruktur medis Iran bukanlah sekadar “kerusakan tambahan” dalam perang, melainkan inti dari strategi yang lebih besar: melumpuhkan negara dari dalam dengan cara yang paling fundamental—merampas harapan rakyatnya untuk bertahan hidup.

Untuk memahami hal ini, kita harus mundur ke belakang sejenak, melihat Iran bukan dari kacamata medan perang konvensional, melainkan dari perspektif sejarah panjang sanksi, ketahanan yang dipaksakan, dan bagaimana kesehatan publik telah menjelma menjadi aset strategis paling kuat yang dimiliki Iran.

Dua Dekade Sanksi: Ketika Blokade Ekonomi Melahirkan Negara Farmasi yang Mandiri

Sejak awal 2000-an, AS dan sekutunya telah memberlakukan sanksi ekonomi yang terus mengencang terhadap Iran, bertujuan untuk melumpuhkan perekonomian negara itu dan memaksanya menyerahkan program nuklirnya. Namun ironisnya, sanksi yang dimaksudkan untuk melemahkan justru memaksa Iran menempuh jalur ketahanan diri (self-sufficiency) yang luar biasa di sektor farmasi. Ketika perbankan internasional menutup akses Iran, ketika perusahaan farmasi global seperti Sanofi enggan menjual obat karena takut terkena denda dari Departemen Keuangan AS, dan ketika mekanisme “overcompliance” bank-bank Eropa secara efektif memblokade jalur kemanusiaan yang secara teknis dikecualikan dari sanksi, Iran tidak punya pilihan lain: mereka harus memproduksi obat-obatannya sendiri.

Hasilnya mencengangkan. Hingga awal 2026, lebih dari sembilan puluh persen kebutuhan obat Iran diproduksi di dalam negeri. Ratusan perusahaan farmasi lokal tumbuh bak jamur di musim hujan, dari yang memproduksi antibiotik sederhana hingga bahan baku obat kanker dan imunomodulator untuk penyakit multiple sclerosis. Kawasan industri Karaj dan Vardavard di pinggiran Teheran menjelma menjadi klaster farmasi terbesar di Timur Tengah. Sebuah analisis ekonomi menyebut bahwa industri farmasi Iran telah menjelma menjadi “aset strategis” sekaligus “pilar keamanan nasional” yang ketahanannya telah teruji dalam masa perang. Dalam konteks Iran, ketahanan farmasi bukan sekadar pencapaian ekonomi, melainkan nyawa dari ketahanan nasional itu sendiri.

Di sinilah letak ironi tragisnya. Sanksi yang dijatuhkan untuk melemahkan Iran justru menciptakan sistem kesehatan yang paling tahan banting di kawasan—dan justru ketahanan inilah yang kemudian menjadi sasaran perang pada Februari 2026. Para perencana strategis di Pentagon dan Kantor Perdana Menteri Israel memahami dengan sangat baik bahwa Iran yang mampu mempertahankan kesehatan rakyatnya di tengah tekanan eksternal adalah Iran yang terlalu kuat untuk dikalahkan melalui konvensional semata. Oleh karena itu, serangan udara bukan lagi ditujukan ke pabrik rudal atau fasilitas nuklir—serangan itu kini diarahkan ke jantung ketahanan sipil Iran.

Tiga Target, Satu Pola: Strategi Degradasi Sistematis

Mari kita bedah tiga serangan utama yang terjadi antara 29 Maret hingga 3 April 2026, karena pola di baliknya mengungkap lebih dari sekadar taktik militer.

Pertama: Tofigh Daru Pharmaceutical Company (31 Maret 2026)

Ini adalah perusahaan penghasil bahan aktif (active pharmaceutical ingredients/API) untuk obat kanker, imunomodulator multiple sclerosis, dan anestesi yang digunakan di ruang operasi. Klaim Israel bahwa pabrik ini memasok fentanyl untuk program senjata kimia dengan cepat dibantah Iran, dan yang lebih penting, tidak didukung oleh bukti independen apa pun. Seorang peneliti sanksi, Esfandyar Batmanghelidj, menyatakan dengan lugas: “Perusahaan seperti Tofigh Darou memproduksi bahan baku yang kemudian dapat digunakan untuk membuat berbagai macam obat secara domestik. Satu-satunya alasan Anda menargetkan fasilitas ini adalah untuk mencoba membatasi produksi obat di Iran.” Ini bukan serangan terhadap senjata kimia—ini adalah serangan terhadap kapasitas produksi mandiri Iran.

Kedua: Delaram Sina Psychiatric Hospital (29 Maret 2026)

Sebuah rumah sakit jiwa yang baru dibangun, dengan sekitar tiga puluh pasien di dalamnya. Pasien gangguan jiwa tidak memiliki kaitan apa pun dengan upaya perang. Tidak ada logika militer yang membenarkan serangan ini kecuali satu: **menyebarkan teror dan keputusasaan**. Menghancurkan rumah sakit jiwa adalah cara paling kasar untuk mengatakan bahwa tidak ada tempat yang aman di Iran—bahkan mereka yang paling rentan sekalipun tidak luput.

Ketiga: Pasteur Institute (3 April 2026)

Inilah target yang paling simbolis. Pasteur Institute bukan sekadar pusat penelitian—ia adalah institusi sains tertua dan paling bergengsi di Timur Tengah, mitra langsung WHO untuk program imunisasi nasional Iran. Seorang analis menulis bahwa pola serangan ini “tidak salah lagi: ini adalah strategi yang disengaja untuk membongkar infrastruktur kesehatan publik Iran, untuk merampas akses rakyatnya terhadap obat-obatan esensial, dan untuk mempersenjatai penyakit serta penderitaan demi tujuan politik”. Menghancurkan Pasteur Institute berarti memutus rantai produksi vaksin yang melindungi jutaan anak Iran dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.

Tiga serangan ini, jika dilihat secara terpisah, mungkin tampak seperti insiden-insiden yang terisolasi. Namun jika disatukan, sebuah pola strategis yang mengerikan mulai terlihat: **degradasi kapasitas kesehatan Iran secara tiga lapis**. Lapis pertama, bahan baku dan produksi obat (Tofigh Daru). Lapis kedua, layanan kesehatan jiwa yang paling rentan (Delaram Sina). Lapis ketiga, penelitian dan pencegahan penyakit (Pasteur Institute). Ini adalah peta jalan untuk melumpuhkan sistem kesehatan Iran secara total.

Antara Rezim Change dan Perang Ketahanan: Membaca Tujuan Sebenarnya

Untuk memahami mengapa fasilitas medis dihancurkan, kita harus membaca tujuan strategis perang itu sendiri. Pada 28 Februari 2026, AS dan Israel melancarkan serangan gabungan yang oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut sebagai “serangan preemptive”. Namun di balik publik, proposal yang disampaikan Netanyahu di Gedung Putih pada Februari 2026 mencakup empat tujuan utama: melenyapkan kepemimpinan puncak Iran, menghancurkan kemampuan misilnya, memicu kerusuhan publik, dan pada akhirnya mencapai pergantian rezim. Sebuah analisis dari Small Wars Journal mencatat bahwa pembenaran resmi perang ini bergeser antara “mengurangi kapasitas nuklir, mencapai pergantian rezim, memulihkan deterensi, dan menegaskan kembali supremasi AS di kawasan”.

Namun pada akhir Maret 2026, setelah hampir satu bulan pertempuran, Iran menunjukkan ketahanan yang luar biasa. Sebuah analisis dari The Insider melaporkan: “Empat minggu dalam kampanye AS-Israel melawan Republik Islam, Iran telah menunjukkan ketahanan yang mencolok. Meskipun pertahanan udaranya hancur dan banyak pemimpin seniornya dilenyapkan, baik rezim Iran maupun militer negara itu tidak menunjukkan tanda-tanda keruntuhan”.

Di sinilah serangan terhadap fasilitas kesehatan menemukan logikanya. Ketika kampanye militer konvensional tidak mampu meluluhlantakkan rezim, **kesehatan publik menjadi titik lemah yang paling strategis untuk dieksploitasi**. Rezim Iran, sejak Revolusi 1979, membangun legitimasinya di atas dua pilar utama: ketahanan terhadap tekanan eksternal dan penyediaan kesejahteraan sosial bagi rakyatnya. Sistem kesehatan universal yang relatif maju di Iran—dengan cakupan vaksinasi yang luas dan akses terhadap obat-obatan esensial—telah menjadi bukti nyata bahwa rezim ini mampu melindungi rakyatnya di tengah sanksi global yang paling keras sekalipun.

Dengan menghancurkan sistem itu, AS dan Israel mengirim pesan yang jelas kepada rakyat Iran: rezim Anda tidak dapat melindungi Anda. Jika Anda sakit kanker, tidak ada obat. Jika anak Anda membutuhkan vaksin, tidak ada yang tersedia. Jika Anda mengalami serangan jantung, rumah sakit mungkin telah hancur. Tujuannya adalah untuk memutus rantai kesetiaan antara rakyat dan negara—untuk menciptakan kondisi di mana rakyat Iran mulai mempertanyakan apakah rezim yang berkuasa masih layak dipertahankan. Ini adalah perang psikologis yang dimaterialisasi dalam bentuk bom.

Sanksi + Bom = Perang Dua Lapis

Salah satu aspek paling khas dari strategi AS-Israel terhadap Iran adalah kesinambungan antara sanksi ekonomi dan serangan fisik. Seperti dikatakan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, serangan terhadap pabrik farmasi adalah “dimensi lain dari sanksi kriminal mereka.”

Sanksi telah lama menciptakan kelangkaan obat yang parah di Iran. Sebuah laporan menunjukkan bahwa jutaan pasien penderita hemofilia, multiple sclerosis, talasemia, kanker, dan penyakit langka telah melihat rantai pasokan vital mereka terputus. Harga obat antiepilepsi melonjak hingga tiga ratus persen. Ruang operasi kehabisan anestesi modern dan kembali ke standar yang sudah usang. Human Rights Watch menemukan bahwa sanksi menyebabkan penderitaan yang tidak perlu, terutama bagi populasi yang terpinggirkan.

Kemudian, ketika perang pecah pada Februari 2026, serangan fisik datang untuk melengkapi apa yang dimulai oleh sanksi. Sebagaimana diakui oleh WHO, sedikitnya 307 fasilitas kesehatan, medis, dan darurat telah rusak akibat perang. Jika sanksi menciptakan “kematian lambat” melalui kelangkaan obat, maka serangan udara menciptakan “kematian instan” melalui penghancuran infrastruktur itu sendiri. Bersama-sama, keduanya membentuk strategi yang koheren: memastikan bahwa sistem kesehatan Iran tidak akan pernah pulih, bahkan jika perang ini berakhir.

Preseden yang Mengkhawatirkan: Gaza dan Lebanon sebagai Cetak Biru

Salah satu aspek paling mengerikan dari perang ini adalah bahwa pola serangan terhadap fasilitas kesehatan Iran bukanlah sesuatu yang baru. Ia memiliki preseden yang jelas di Gaza dan Lebanon.

Di Gaza, sejak Oktober 2023, dunia menyaksikan apa yang disebut sebagai “pemberantasan sistematis sektor kesehatan”. Rumah Sakit al-Shifa, fasilitas medis terbesar di Jalur Gaza, digerebek dan kemudian dihancurkan pada Maret 2024. Rumah Sakit al-Ahli diserang, menewaskan ratusan warga sipil. Petugas Palang Merah dan direktur rumah sakit ditangkap secara massal.

Di Lebanon, dalam satu bulan pertama bombardemen Israel, 53 petugas medis tewas, 87 ambulan hancur, dan lima rumah sakit dipaksa tutup. Dokter Tanpa Batas (MSF) memverifikasi adanya “pola serangan terdokumentasi yang mempengaruhi layanan kesehatan.”

Ketika pola yang sama muncul di Iran—rumah sakit jiwa, gudang Palang Merah, pusat penelitian vaksin—ini bukanlah kebetulan. Ini adalah doktrin yang telah diuji, disempurnakan, dan kemudian diterapkan di teater perang berikutnya. Pesan yang dikirimkan adalah bahwa perlindungan hukum bagi fasilitas kesehatan, yang diabadikan dalam Konvensi Jenewa, telah menjadi mati suri.

Mengapa Ini Penting bagi Dunia: Runtuhnya Norma Kemanusiaan

Penghancuran sistematis infrastruktur kesehatan dalam konflik bersenjata bukan hanya masalah Iran. Ini adalah masalah bagi seluruh dunia karena ia menciptakan preseden berbahaya: bahwa tidak ada lagi yang sakral dalam perang modern.

Hukum humaniter internasional, sejak Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol Tambahan 1977, dibangun di atas asumsi bahwa ada garis yang tidak boleh dilintasi bahkan dalam perang yang paling brutal sekalipun. Rumah sakit, petugas medis, ambulan, dan persediaan obat-obatan harus dilindungi. Ini bukan sekadar kemurahan hati—ini adalah kebutuhan pragmatis. Tanpa perlindungan ini, tidak akan ada insentif bagi siapa pun untuk menyediakan layanan kesehatan di zona konflik. Petugas medis akan menjadi target, rumah sakit akan menjadi medan perang, dan korban perang—dari kedua belah pihak—akan dibiarkan mati.

Ketika AS dan Israel melintasi garis ini di Gaza, Lebanon, dan kini Iran, mereka mengirim pesan bahwa aturan itu tidak lagi berlaku. Negara-negara lain—Rusia di Ukraina, misalnya, yang telah menyerang lebih dari seribu fasilitas kesehatan sejak 2022—mengamati dan belajar. Jika AS dan Israel, sekutu dekat dan negara-negara demokrasi yang mengklaim menjunjung tinggi supremasi hukum, dapat menyerang rumah sakit dan pusat penelitian vaksin tanpa konsekuensi, maka mengapa negara lain tidak boleh melakukannya?

Antara Kemenangan Militer dan Kekalahan Moral

Pada 12 April 2026, Organisasi Kedokteran Forensik Iran mengidentifikasi sedikitnya 3.753 orang tewas dalam perang AS-Israel yang dimulai pada 28 Februari. Angka ini kemungkinan akan terus bertambah, bukan hanya dari serangan langsung tetapi juga dari kematian akibat penyakit yang tidak terobati, operasi yang tidak bisa dilakukan, dan vaksin yang tidak pernah sampai.

Pertanyaan yang harus diajukan bukan hanya “apakah ini kejahatan perang?”—karena jawabannya kemungkinan besar ya. Pertanyaan yang lebih sulit adalah: apa yang tersisa dari tatanan internasional berbasis aturan jika rumah sakit jiwa, pabrik obat kanker, dan pusat penelitian vaksin dapat dihancurkan dengan impunitas?

Presiden Iran Masoud Pezeshkian, seorang ahli bedah jantung yang kini harus menyaksikan sistem kesehatan negaranya dihancurkan, mengajukan pertanyaan retoris yang mungkin akan bergema dalam sejarah: “Pesan apa yang disampaikan oleh penyerangan terhadap rumah sakit, perusahaan farmasi, dan Institut Pasteur sebagai pusat penelitian medis di Iran?” Jawabannya, jika kita membaca strategi di balik bom demi bom, adalah pesan yang sangat dingin: bahwa dalam perang ini, bahkan harapan untuk hidup sehat sekalipun adalah target yang sah.

Dunia mungkin akan mengingat perang 2026 sebagai titik balik—bukan hanya dalam peta geopolitik Timur Tengah, tetapi juga dalam sejarah hukum perang itu sendiri. Apakah norma-norma yang dibangun di atas puing-puing Perang Dunia II akan bertahan, atau akan runtuh seperti gedung Pasteur Institute yang hancur terkena rudal? Jawabannya akan ditulis tidak hanya di medan perang Iran, tetapi juga di ruang sidang pengadilan internasional, dalam laporan-laporan WHO, dan dalam hati nurani kolektif umat manusia yang perlahan-lahan mulai mati rasa terhadap penderitaan yang tak berkesudahan.

Adv Banner

Komentar