Palangkaraya, indomaritim.com – Dua perupa mewakili dua generasi bertemu pada pameran bertajuk “Menubuh Waktu” di Badri Gallery, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 27 Juni – 8 Agustus 2026. Kedua perupa adalah Misbach Tamrin (1941), dan Badri Hurmansyah (1995).
Judul pameran “Menubuh Waktu” untuk membingkai pendekatan dua perupa lintas generasi dengan menghadirkan kembali atau memadatkan waktu sebagai sesuatu yang niscaya meruang, menjadi bagian dari perjalanan bahkan identitas tubuh itu.
Misbach Tamrin dari generasi Baby Bomers dikenal lewat karyanya bercorak “realisme revolusioner” yang diusungnya sebagai suatu aliran atau ideologi kesenian. “Corak ini menghasilkan karya realis dengan muatan idelogi revolusioner, yang tidak diam melihat ketidakadilan atau ketimpangan sosial, yang menggugat atau mengkritik bentuk-bentuk dominasi sosial yang timpang,” ujar Hajriansyah, kurator pameran ini.
Sebaliknya Badri, generasi Milenial yang lahir dan tumbuh dalam alam liar Kalimantan dengan hutan dan sungainya, belajar kesenian di alam metropolitan yang kompleks, dia membawa kenangan dan refleksi masa lalunya atas kenyataan sosial, persoalan lingkungan hari ini yang saling berbenturan. “Antara yang virtual-imajinal dengan kebutuhan hiburan yang niscaya,” kata Hajriansyah.
Misbach dikenal sebagai juru bicara komunitas Sanggar Bumi Tarung (SBT) yang berdiri sejak tahun 1961 di Yogyakarta. SBT adalah kelompok seniman rupa berhaluan kerakyatan yang didirikan oleh mahasiswa ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) Yogyakarta seperti Amrus Natalsya, Djoko Pekik, dan Misbach Tamrin, dengan prinsip utama seni yang berpihak pada rakyat dan kebudayaan nasional.
SBT dibentuk sebagai wadah seniman muda ASRI yang menolak pengaruh budaya asing, sebaliknya mengusung ideologi kerakyatan. Sejak itu SBT dikenal sebagai petarung ideologi, lewat karya anggotanya dan melalui dialektika mereka di ruang publik seni rupa Indonesia periode 1960-an. Kelompok ini dikenal memiliki kedekatan orientasi dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) yang diinisiasi oleh sejumlah tokoh dan seniman yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) seperti D.N. Aidit, Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta. Dampaknya anggota Sanggar Bumi Tarung juga mengalami masa-masa sulit dan penahanan panjang akibat perubahan situasi politik nasional pasca 1965.
Setelah Reformasi 1998, Sanggar Bumi Tarung bangkit kembali memberi kontribusi wacana melalui “aliran” Realisme Revolusioner. Aliran ini yang identik gerakan politik “kiri”, adalah di antara pengejawantahan cita-cita Bung Karno merevolusi negerinya dengan semangat dan gagasan akan kesejahteraan rakyat.
Sehingga seindah apapun karya lukis Misbach tetap membawa rasa getir dan gugatan atas kesewenang-wenangan. Ada karya lukis dengan narasi perjuangan hidup rakyat kecil di ruang pertambangan intan berupa lima figur suami-istri dan tiga anaknya di tengah lanskap tambang untuk mencari intan yang hanya akan menjadi perhiasan bagi masyarakat kelas atas (Keluarga Pendulang Intan, 2026).
Misbach juga mengeksplorasi narasi aksi massa berupa citraan kerumunan massa demonstran menghadap ke seorang orator yang mengenakan pakaian jas lengkap sedang berorasi. Suasana penuh gelora itu berlangsung di depan gedung DPR-MPR, Monas yang menjulang dan hutan gedung bertingkat (Tokoh DPR Berorasi, 2026).
Semangat idiologi Kiri juga muncul lewat karya lukis dengan narasi perang Iran melawan agresi militer kapitalisme Amerika Serikat dan Israel berupa kumpulan massa yang mengibarkan bendera merah putih sebagai ekspresi dukungan rakyat Indonesia terhadap Iran. Sementara di bagian atas ada potret wajah Presiden Donald Trump dan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan mulut menganga dan mata terbelalak melihat aksi dukungan terhadap Iran itu (Perang Iran, 2026).
Di sisi lain, karya-karya Badri Hurmansyah dengan tehnik realis memasukkan elemen dekoratif, mengeksplorasi narasi masa kecilnya yang tumbuh di tengah habitat alam lewat potret wajah bocah bersanding dengan sosok burung Hantu dalam komposisi warna primer (Tubuh dan Akar Alam, 2026). Ada juga potret wajah dua bocah lewat tehnik realis yang mengekspresikan emosi wajah yang alamiah (Keinginan, 2019; Ketenangan, 2020).
Pada pameran ini karya Badri lebih dominan pada karya instalasi tinimbang karya lukisnya. Realitas virtual zaman now diolahnya melalui permainan cahaya lampu di dalam ruang gelap (Berenang dalam Sungai Cahaya, 2026). Ada juga tebaran bunga kertas dalam berbagai warna di bagian atas ruangan, sementara hamparan kaca cermin di lantai ruangan memantulkan bentul visual struktur bunga kertas di atasnya yang membuat orang seperti terperangkap di tengah citraan bentuk yang sama (Bunga di Langit Hati, 2026). “Pendar cahaya dan susunan benda-benda nyata yang meruang-waktu, dan dunia surreal hari ini penuh tatapan kosong menyeramkan,” ujar Hajriansyah.
Dua generasi, generasi Misbach Tamrin yang sangat idiologis dan generasi Badri Hurmansyah yang menghadapi realitas virtual, mereka hadir di ruang yang sama lewat eksplorasi identitas tubuh yang berbeda. (RF)








Komentar