Support by SAMUDRA PELAUT TRUST DESA
Saat ini suasana tegang kembali menyelimuti markas International Seabed Authority (ISA) hari ini saat China secara resmi mengajukan permohonan izin eksplorasi keenamnya di Zona Clarion-Clipperton, Samudera Pasifik. Pengajuan ini datang di tengah kebuntuan yang telah berlangsung tiga tahun, dimana 168 negara anggota gagal mencapai konsensus tentang regulasi penambangan laut dalam komersial pertama di dunia.
“Kami kecewa, tetapi tidak terkejut,” ujar Michael Lodge, Sekretaris Jenderal ISA, mengulangi pernyataan yang semakin sering terdengar setiap kali pertemuan berakhir tanpa kesepakatan. Tekanan semakin memuncak dari perusahaan-perusahaan tambang yang telah menginvestasikan miliaran dolar, sementara para ilmuwan terus memperingatkan tentang risiko bencana ekologis yang tidak dapat dipulihkan.
Di balik layar, pertarungan geopolitik semakin sengit. China, dengan lima kontrak eksplorasi yang telah diamankan—terbanyak di antara semua negara—terus mendorong percepatan regulasi. Sementara itu, Amerika Serikat dan sekutu Eropanya semakin vokal menyerukan pendekatan kehati-hatian. Yang mengubah peta kekuatan, Brasil dan Afrika Selatan yang sebelumnya netral, kini bergabung dengan blok moratorium yang dipimpin Jerman dan Prancis.
“Setiap negara membawa kepentingan nasionalnya masing-masing,” jelas Duta Besar Indonesia untuk ISA, dalam percakapan terbatas. “Tapi kita tidak boleh lupa, laut dalam adalah warisan bersama umat manusia.”
Sementara diplomat berdebat, temuan ilmiah terbaru dari eksperimen DISCOL tahun 1985 memberikan gambaran suram tentang masa depan penambangan laut dalam. Tim ilmuwan internasional yang dipimpin Institut Alfred Wegener Jerman membuktikan bahwa setelah empat puluh tahun, ekosistem dasar laut di Peru Basin masih jauh dari pulih.
“Area yang terganggu menunjukkan keanekaragaman hayati 80% lebih rendah,” tulis Dr. Sabine Kasten dalam laporan yang diterbitkan Nature bulan lalu. Yang lebih mengkhawatirkan, jejak logam berat telah ditemukan dalam rantai makanan, mengindikasikan kontaminasi menyebar melampaui area yang terganggu.
The Metals Company (TMC), perusahaan Kanada yang menjadi pionir, mengklaim telah mengembangkan teknologi generasi terbaru yang mampu meminimalisir dampak lingkungan. Dalam demonstrasi tertutup di Singapura, mereka memamerkan robot penambang yang diklaim hanya mengganggu 10% area operasi.
“Kami dapat menambang dengan presisi tinggi,” klaim CEO TMC Gerard Barron.
Namun klaim ini dibantah keras oleh komunitas ilmiah. “Itu seperti mengatakan Anda bisa mengambil kismis dari kue tanpa menyentuh adonannya,” bantah Dr. Cindy Lee Van Dover dari Duke University. “Fisika dasar membuktikan operasi mekanis di kedalaman 4.000 meter pasti menciptakan gumpalan sedimen yang menyebar.”
Untuk negara seperti Nauru dengan 10.000 penduduk, penambangan laut dalam adalah masalah keberlangsungan hidup. “Permukaan air laut terus naik, terumbu karang kami sekarat. Kami butuh sumber pendapatan baru,” kata Perdana Menteri Nauru, Lionel Aingimea.
Namun keputusan Nauru menuai kritik pedas dari sesama negara kepulauan Pasifik. Fiji dan Palau memimpin koalisi penentang, menyebutnya “pengkhianatan terhadap warisan laut Pasifik.”
Dengan mandeknya regulasi di ISA, perusahaan-perusahaan mulai mencari jalan lain. DeepGreen, anak usaha TMC, telah mengajukan izin eksplorasi di perairan nasional Papua Nugini, sementara China beralih ke Zona Ekonomi Eksklusif Seychelles.
“Jika ISA tidak bisa berfungsi, negara-negara akan mengambil jalan sendiri-sendiri,” peringatan Duta Besar Norwegia untuk ISA, Henning Ørsted. “Ini adalah awal dari kekacauan.”
Sementara itu, ilmuwan terus berkejar-kejar dengan waktu. Tim yang dipimpin Aguzzi mengembangkan jaringan pemantauan laut dalam real-time, sementara penerapan deep learning untuk ekologi laut Goodwin mulai mengungkap kompleksitas kehidupan di kedalaman.
Dilemanya semakin kompleks: transisi energi membutuhkan logam-logam kritis, sementara laut dalam menyimpan keanekaragaman hayati yang mungkin lebih berharga daripada semua nodul di dunia.
Seperti diingatkan legenda oseanografi Dr. Sylvia Earle: “Kita lebih dulu mengenal bulan daripada mengenal laut dalam kita sendiri. Apakah kita akan menghancurkannya sebelum sempat memahaminya?”
Jawabannya akan menentukan nasib salah satu ekosistem terakhir yang masih perawan di Bumi— Deep Blue Sea.








Komentar