Siaga Bencana di Kawasan Rawan Rob Pantai Kota Mataram

Daerah121 Dilihat

Mataram, indomaritim.com – Dinas Sosial (Dinsos) Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat, menyiagakan personel taruna siaga bencana (tagana) di sejumlah lokasi rawan rob di kawasan pantai Kota Mataram selama potensi terjadi gelombang tinggi.

Kepala Dinsos Kota Mataram Muzakkir Walad di Mataram, Kamis, mengatakan langkah itu untuk mempercepat deteksi dini, memfasilitasi evakuasi warga, serta mengoptimalkan layanan perlindungan sosial.

“Kehadiran tagana di lokasi juga untuk memastikan bantuan darurat dan pendataan korban berjalan cepat, tepat, dan terorganisir di lokasi terdampak ketika terjadi bencana,” katanya seperti dikutip Antara.

Berdasarkan prakiraan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), potensi gelombang tinggi di 9,1 kilometer perairan Mataram terjadi hingga 6 Juni 2026.

Hal tersebut disampaikan menyikapi bencana rob yang terjadi di Kampung Bugis, Ampenan, pada Rabu (3/6), sekitar pukul 06.00 Wita akibat perubahan arah angin, arus, dan gelombang tinggi.

Selain itu, adanya kasus anak hilang di pantai dan ditemukan meninggal dunia karena bermain di pantai pada akhir pekan lalu, sehingga perlu peningkatan pengawasan petugas dan orang tua ketika anak bermain di pantai.

Dia mengatakan personel ditempatkan di sejumlah lokasi rawan rob dan gelombang tinggi meliputi Bintaro tiga orang, Kampung Banjar (1), Ampenan Selatan (2), dan Bangsal hingga Bagek Kembar (3).

“Tagana harus menjadi orang terdepan baik dalam penanganan bencana alam maupun bencana sosial pra dan pascabencana,” katanya.

Personel tagana juga harus mengimbau pengunjung pantai dan warga yang tinggal di pesisir pantai agar waspada dan mengawasi aktivitas anak-anak saat bermain di pantai.

“Namun dengan kondisi gelombang tinggi saat ini, kami menyarankan sebaiknya untuk sementara warga tidak bermain ke pantai,” katanya.

Ia juga mengatakan kejadian anak terbawa arus pantai dan ditemukan meninggal dunia, menjadi pelajaran bagi Dinsos agar lebih siaga dan optimal melaksanakan penanganan.

Saat peristiwa itu, katanya, dua tim penyelam dari tagana turun langsung namun karena kondisi air pantai yang keruh, korban tidak bisa terlihat.

Berdasarkan kasus tersebut, Dinsos menilai perlu ada tambahan satu personel yang memiliki kemampuan menyelam untuk membantu kerja dua personel yang sudah ada.

“Insyaallah, di APBD Perubahan 2026, akan coba kami usulkan untuk mendapatkan pelatihan dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas),” katanya. (RR)

PERINGATAN!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel/gambar/video/infografis tanpa izin tertulis dari redaksi indomaritim.com.

Komentar