Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Lanskap politik Indonesia selalu menjadi sorotan yang menarik dan menantang menjelang pendaftaran calon Presiden dan wakil Presiden pada 10-16 oktober 2023 ini. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah peristiwa dan keputusan strategis telah membentuk jalannya koalisi. Menganalisa dari berbagai perubahan komposisi koalisi, awal dan akhirnya selalu berkaitan erat dengan satu figur sentral Presiden Joko Widodo. Kendati dari awal telah menunjukkan fokus dukungan statementnya kepada Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Namun, dalam perjalanan komunikasi politik elit, selalu ada opsi dan pilihan yang beragam yang menjadikan permainan politik ini terus bergerak dinamis.
Layaknya negara maju diseluruh dunia, di Indonesia juga menunjukkan kedigdayaan Badan Intelijen Negara dalam memainkan peran penting dalam kebijakan politik. Belum diketahui kebijakan strategis negara kepada pilihan politik dalam kontestasi Pilpres 2024, namun visi negara untuk penguatan perhelatannya terus berjalan dengan sangat baik. Peralihan dukungan PKB kepada mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berlangsung dengan sangat cepat. Begitu juga dengan Partai Demokrat yang memilih bergabung dengan koalisi Prabowo Subianto, menambah kerumitan politik mengingat partai Golkar yang saat ini telah menjadi pemain utama dalam pusaran politik Prabowo. Nyaris hanya menjadi ikatan praghmatis minus gagasan yang sebenarnya menjadi puncak masalah sebenarnya.
Politik negara tidak selalu menunjukkan transparansi, namun wajib menampilkan akuntabilitas dalam diplomasi politik elit menjelang pendaftaran calon presiden dan wakil presiden. Koalisi mungkin saja terus bergerak mencari alternatif pilihannya, namun akhir september ini pergerakan itu hanya mengarahkan kepada dua poros calon presiden. Konstelasi dengan poros dukungan yang semakin rumit ini bisa memunculkan dua skenario. Skenario pertama melibatkan poros utama PDIP dengan Ganjar Pranowo, yang akan berhadapan dengan Anies Baswedan yang dimotori oleh Nasdem, PKB dan PKS. Sementara skenario kedua melibatkan pertarungan antara Ganjar Pranowo dan poros besar Prabowo Subianto yang saat ini dibentengi oleh Gerindra, Golkar, PAN dan Demokrat.
Dari kedua skenario diatas diyakini akan didahului oleh proses konsolidasi darurat dengan varian gebrakan politiknya. Sesuai dengan teori statistik yang pernah dijabarkan oleh Trust Indonesia tentang nilai tengah, dimana Prabowo adalah nilai tengahnya Anies dan Ganjar. Dimana Prabowo adalah representasi dari pemilih yang kecewa kepada Anies dan tidak mau memilih Ganjar, begitu juga sebaliknya representasi dari pemilih Ganjar yang kecewa dan tidak mau memilih Anies. Hal inilah yang menjadikan Prabowo menjadi capres dengan kans tertinggi. Berkaca dari politik USA dengan sejarah abraham Lincoln yang berkali-kali gagal, namun akhirnya terpilih menjadi Presiden.
Dengan pertimbangan inilah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang memiliki penguasaan penting dalam politik Indonesia tetap mempertimbangkan berpasangan dengan poros Prabowo. PDIP jelas terlihat lebih siap menghadapi Anies Baswedan ketimbang berhadapan langsung dengan Prabowo Subianto, meskipun Presiden Jokowi sendiri mungkin tidak merasa yakin baik pusaran Ganjar maupun pusaran Prabowo jika harus bersaing dengan Anies. Namun akrobatik politik apapun yang akan terjadi saat ini, ketum PDIP Megawati Soekarnoputri dan Presiden Jokowi adalah faktor kuncinya. Mengingat calon wakil terkuat Ganjar, baik Mahfud MD maupun Sandiaga Uno belum mendapatkan ruang untuk terlibat dalam proses ini.
Disisi lain Partai Keadilan Sejahtera sebagai salah satu kekuatan politik Islam modernis di Indonesia, berpotensi menjadi faktor kunci di dua poros yang akan terbentuk mengingat kompromi politik di injury time adalah skema diplomasi kekuasaan bukan ideologi. Sementara Golkar sebagai partai pembangunan yang mewakili nilai tengah dalam demokrasi kepartaian, akan berperan menjadi juru selamat demokrasi atas ketiga calon Presiden yang bertarung. Dengan semua dinamika politik ini, semoga Indonesia terus bergerak maju dalam perjalanan politiknya. Karena bagi mereka semua `Lawan dalam pemilu adalah teman dalam demokrasi`.














Komentar