Pelaut ADIPATI l Kalitbang INDOMARITIM l Direktur Eksekutif TRUST l Presiden SPI l Volunteer INMETA
Perlintasan laut cina selatan yang dulunya hanya dikenal sebagai jalur perdagangan, hari ini telah berubah menjadi jalur kekuatan geopolitik strategik Internasional. Ada baiknya kita flashback kembali kebelakang, bahwa ada jalan suci perjuangan daratan Tiongkok untuk menguasai dunia dari jalur laut. Jalur suci yang dikenal dengan Jalan Sutra Maritim masih berlangsung sampai hari, bahkan hampir mencapai puncaknya. Jalur maritim ini tidak akan pernah ada jika tidak ada dukungan dari negara-negara di Asia Selatan.
Berawal dari armada laut yang berangkat dari provinsi tenggara Fujian China. Perjalanan dimulai dengan melintasi Laut China Selatan, melintasi Samudra Hindia hingga mencapai Teluk Persia, serta Afrika Timur. Dilanjutkan ke Uni Eropa. Jalan raya maritim yang dibuat oleh China yang melintasi Samudera Hindia ini dibangun dengan target kerjasama berkelanjutan antara China dan Uni Eropa. Hal inilah yang menjadikan Samudera Hindia seperti halnya Laut Cina Selatan, merupakan zona strategis sekaligus menjadi kawasan kegiatan ekonomi dan transportasi.
Posisi Laut Cina Selatan dan Samudera Hindia ibarat dua sayap kekuatan armada laut yang mendapatkan sambutan yang berbeda-beda pada setiap negara yang dilewatinya. Perbedaan itu terlihat dari kepentingan geopolitik tiap negara masing-masing. Seperti di Sri Lanka yang akan memiliki pelabuhan terbesar di Asia Selatan, yang terletak di Hambentota dan Colombo Port City. Demikian juga dengan koridor Ekonomi Pakistan–Tiongkok atau CPEC akan memiliki Pelabuhan Gwadar perairan dalam dan zona perdagangan bebas seluas lebih dari 900 hektar.
Namun dalam ekspansinya China jelas mengalami ketegangan regional akibat sengketa Laut Cina Selatan. Dimana salah satunya sedang terjadi konflik perbatasan seperti sengketa perbatasan Sino-India, sengketa dengan Jepang atas Kepulauan Senkaku/Diaoyutai. Dalam penguasaan maritimnya, China berkali-kali mencoba melakukan investasi komersial dan institusional untuk menjamin perubahan rezim terhadap negara tetangganya dengan insentif dan pendekatan ekonomi lainnya. Sehingga jelaslah bahwa strategi jalur sutra maritim yang dijalankan negri Tionkok ini adalah project peradaban yang akan berlangsung sampai Akhir zaman.
Setelah Tiongkok membuka Jalur Sutra 2000 tahun yang lalu, yang terbukti telah menerabas semua kejayaan kerajaan raksasa dizamannya. Sebutlah kerajaan Mongol, kesultanan Turki Usmani, serta Kekaisaran Byzantium, The Silk Road terus akan bergerak sebagai rangkaian langkah suci Tiongkok menaklukkan dunia melalui jalur maritim. Presiden Tiongkok Xi Jinping memulai menegaskan mega proyek ini sejak tahun 2013 yang dia sebut sebagai ‘Jalur Sutra Baru Abad ke-21’ atau The Silk Road Economic Belt and the 21st-century Maritime Silk Road. Tujuan dari proyek ini adalah menciptakan beberapa koridor ekonomi yang menyambungkan lebih dari 60 negara di seluruh dunia.
Jalur laut dikenal dengan Jalur Sutra Maritim, menghubungkan pelabuhan Tiongkok dengan sejumlah pelabuhan sepanjang rute dari Laut Tiongkok Selatan, Samudera Hindia, Teluk Persia, Laut Merah hingga ke Teluk Aden. Dan dari timur laut terdapat kepulauan Indonesia yang dipilih sebagai tempat pertama untuk mengoperasikan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 dengan dikenalkannya Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia Presiden Joko Widodo. Pertanyaannya akankah Indonesia sebagai pemimpin di Asia Tenggara mampu mewujudkan itu semua secara berdaulat. Tentunya mengendalikan dengan menguatkan koordinasi intra-ASEAN dalam kerjasama Jalur Sutra Baru tersebut, atau justru dikendalikan sebagai subjek kepentingan ekonomi Tiongkok semata.













Komentar